Butuh Desain Interior

Konon seorang teolog Yahudi abad XXI, Abraham Joshua Heschel, pernah membagikan refleksinya bahwa iman kepada Allah memerlukan kesadaran akan kehadiran-Nya dalam dunia batin orang. Orang beriman menemukan cara untuk berelasi dengan-Nya dalam hidup biasa sehari-hari. Refleksi rabi Yahudi itu tentu mengandaikan pengalaman dia sendiri dalam menengarai kehadiran Allah dalam desain interior dirinya. Apakah itu berarti eksklusif milik rabi dan umat Yahudi? Tentu tidak.

Kalau orang sadar akan sesuatu, tentu ia punya paham tertentu mengenai sesuatu itu. Begitu pula halnya dengan kesadaran akan kehadiran Allah, orang punya paham Allah tertentu. Paham Allah ini dibutuhkan orang untuk menjelaskan peristiwa eksternal sekaligus dinamika internal orang itu sendiri (perasaan, emosi, hasrat, dan lain-lainnya). Bukankah orang beriman terheran-heran kok ada orang beragama yang senang dan bahkan memaksakan keseragaman? Bukankah orang beriman galau melihat bahwa orang beragama justru gemar membunuh, korupsi, menebarkan hoaks? Tuhan macam apa yang dipercayai orang beragama kok orang beragamanya jadi pembunuh, teroris, dan sejenisnya?

Singkatnya, paham Allah menunjukkan tatanan orientasi sosial (seharusnya orang beragama itu bla bla bla) sekaligus menyediakan medium komunikasi bagi orang berupa perangkat way of proceedings dalam agama. Celakanya, paham Allah dalam agama itu bisa sedemikian kompleksnya (dan mungkin ironis) sehingga orang bisa jatuh dalam dua godaan. Pertama, menjadi lèlèh luwèh sehingga justru malah tak peduli lagi terhadap apa kata agama mengenai paham Allah itu. Orang bisa jadi agnostik (ya masih percaya bahwa Allah eksis, tapi gak usah bahaslah karena gak mungkin orang bisa memastikan Allah itu bagaimana); pokoknya hidup baiklah (Ha njuk yang berhak menyebut baik tuh siapa?)

Kedua, saking pedulinya kepada agama yang bermacam-macam ini, orang bisa menyimpulkan bahwa Allah itu ada di mana-mana dan, paling ekstrem, orang meyakini bahwa Allah itu ya semesta ini, segala-galanya: panteisme. Dalam klaim panteis ini, orang tak peduli paham Allah juga (ironisnya) yakin bahwa segalanya adalah Allah, termasuk dirinya sendiri. Ini kutub lain dari radikalisme yang menganggap diri superior dan perilakunya memberi jawaban positif terhadap pertanyaan “Situ Tuhan?“.

Blog ini tidak memberi endorsement baik kepada agnostisisme maupun panteisme. Alasannya antara lain terdapat dalam wacana teks bacaan hari ini, yang tampaknya justru dekat dengan agnostisisme: Kerajaan Allah itu datang tidak dengan tanda-tanda lahiriah, dan orang tak bisa membuat klaim objektif. Kata kuncinya mesti dipegang: Kerajaan Allah ada di antara kamu. Ya, kamu itu!

Sudah teridentifikasi bahwa HTI tak layak hidup di antara kita, tetapi syukurlah bahwa pemerintah ini tak menghabisi orang semata karena berafiliasi pada HTI. Kalau menuruti emosi, tentu saja orang maunya pemerintah menenggelamkan mereka ke laut. Akan tetapi, kalau dipikir baik-baik, bukankah pikiran itu pula yang diperjuangkan HTI, supaya orang lain tunduk pada aturan mereka? Maka dari itu, seperti Kerajaan Allah, ‘aturan’ yang kepadanya semua mesti tunduk itu perlu disosialisasikan di ‘antara kamu’ karena sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu. Memang susah.

Tuhan, mohon rahmat kesabaran dan ketekunan untuk merealisasikan Kerajaan-Mu. Amin.


KAMIS BIASA XXXII B/2
15 November 2018

Flm 1,7-20
Luk 17,20-25

Kamis Biasa XXXII A/1 2017: Papa di Mana?
Kamis Biasa XXXII C/2 2016: Sudah Jago?
Kamis Biasa XXXII B/1 2015: Ini Bukan Ruang Tunggu

Kamis Biasa XXXII A/2 2014: Ganti Lensa Biar Bisa Fokus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s