Situ Tuhan?

Teori pengetahuan akan Allah sudah saya sampaikan pada posting-posting terdahulu (silakan lihat di penghujung halaman ini, ada empat posting), dan teks bacaan hari ini menyinggung juga soal pengetahuan akan kehendak Allah dalam hidup orang. Sedikit mengulang, orang yang tahu kehendak Allah itu bukanlah pertama-tama orang yang secara kognitif saintifik mengerti bagaimana Allah akan memberikan azab kalau orang mulutnya bocor atau akrab dengan pabrik hoaks, melainkan orang yang haqqul yaqin mengenai prinsip-prinsip yang mempertemukan kemanusiaan dengan keilahian.

Dalam teks perumpamaan hari ini, pengetahuan akan kehendak Allah itu terhubung dengan tindakan. Jika tidak, pengetahuan itu tak ada gunanya. Pertanyaan njuk ngopo alias so what gituloh lebih mendesak dijawab daripada teori njelimet mengenai ketuhanan, karena akhirnya ukuran pertemuan kemanusiaan dan keilahian tadi ada pada tindakan. Sedih dan prihatin rasanya jika menilik bagaimana agama jadi bulan-bulanan mereka yang punya kepentingan politik kekuasaan: tahu bahwa kebanyakan orang beragama tak berpengetahuan sampai taraf haqqul yaqin, dimanfaatkanlah emosi mereka untuk hate speech dan percepatan penghakiman terakhir terjadi.

Seluruh WNI semestinya tahu benar bahwa Tuhan itu Esa, tetapi apakah keesaan itu soal kuantitatif atau kualitatif, orang bisa berdebat semalam suntuk dan tak akan ada yang mau mengalah. Akan tetapi, mari perhatikan baik-baik apa yang dicuitkan tetangga saya @sayaganug beberapa waktu lalu:

Silakan plis deh orang mati-matian dengan arogannya membela (keesaan) Tuhan dengan berbagai rumusan dalam berbagai bahasa kuno atau modern, sumonggo. Akan tetapi, kalau tindakannya mengarah pada monopoli interpretasi dan menghujat mereka yang berbeda, itu sudah dengan sendirinya meruntuhkan apa yang dia bela sendiri. Dengan monopoli itu, seperti kata tetangga saya tadi, Tuhan tidak lagi satu, tapi situ. Kalau situ bukan Tuhan, tak perlulah berlagak seperti Tuhan yang tahu segala. Orang beragama, semakin dalam imannya, justru semakin eling bahwa pengetahuannya terbatas, bahkan termasuk untuk membaca Kitab Sucinya sendiri. Dibutuhkan kerendahhatian epistemologis, istilah susahnya. Istilah gampangnya, gak usah belagu membela-bela Tuhan segala sementara perut lapar saja sudah gampang meradang, dicubit njerit dan ditendang kaing-kaing!

Tuhan, mohon rahmat kerendahhatian dan bantulah kami supaya semakin mampu membuat sinkron pengetahuan kami akan kehendak-Mu dan kemanusiaan yang tak diperbudak oleh mereka yang korup dan haus kekuasaan. Amin.


RABU BIASA XXIX B/2
24 Oktober 2018

Ef 3,2-12
Luk 12,39-48

Rabu Biasa XXIX A/1 2017: Kenapa Kitab Suci Turun?
Rabu Biasa XXIX C/2 2016: Anytime Now
Rabu Biasa XXIX B/1 2015: Gak Ngerti Mau Ngapain

Rabu Biasa XXIX A/2 2014: Jangan Lupa Bernafas

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s