Hoaks sampai Kiamat

Ada yang mengusulkan supaya hari ini, minggu lalu, ditetapkan sebagai hari antihoaks se-Indonesia dengan tokoh rujukannya RS, eaaaa…. dan becermin dari pengalaman beliau(-beliau), saya mengakui bahwa saya juga pelaku sekaligus korban hoaks karena saya orang beragama. Tak usah banyak cingcong, saya ambil agama saya saja. Hoaks terbesarnya ialah kebangkitan Yesus. Hoaks lainnya cuma turunan dari itu.

Lah, udah tau hoaks kok ya masih ngotot percaya? Soalnya saya percaya kegunaan époché: beri waktu untuk melakukan verifikasi. Konon, korban hoaks adalah mereka yang malas melakukan verifikasi. Lha, sekarang piye jal membuat verifikasi kebangkitan Yesus? Bukankah ujung-ujungnya perang riset: yang satu mendukung paslon satu, yang lain mendukung paslon tiga [loh yang paslon itu mana?]. Masih ingat kan unêg-unêg saya tentang argumentasi bisa saja cuma mengikuti like-dislike? Mirip dengan itu, kepercayaan bisa juga cuma mengikuti apa yang menyenangkan. Gimana biar kepercayaan itu tak sekadar mengikuti insting like-dislike?

Saya belajar dari tetangga mengenai tiga tingkat keyakinan seturut ulama: ilmul yaqin, ainul yaqin, haqqul yaqin. Saya tidak menguasai bahasa Arab, tetapi saya percaya saja pada orang yang saya anggap tepercaya. Itu keyakinan pada level ilmul yaqin. Sedangkan ainul yaqin menunjuk pada keyakinan yang diperoleh karena verifikasi inderawi (sains dan logika). Level yang paling mantabs adalah haqqul yaqin, yaitu ketika verifikasinya komplet, mencakup pengalaman eksistensial orang yang percaya.

Keyakinan pertama dan kedua bisa saja keliru atau salah. Itu mengapa orang bertengkar karena de facto agama A mengajarkan begini, agama B mengajarkan yang berbeda atau bertentangan. Keyakinan ketiga tidak lagi ribet dengan pertentangan macam itu: entah Yesus bangkit atau tidak, warta kebangkitannya itu saya hidupi dengan kebangkitan saya sendiri, dengan transformasi hidup saya sendiri, dengan move on, dan seterusnya.

Dengan kata lain, entah hoaks atau bukan, manfaatkan saja èpoché: menerima warta sebagai prasangka, prapemahaman, prakeyakinan, tak perlu menyalahkan atau membenarkannya. Maka, èpoché berlangsung sampai kiamat. Lha sebelum kiamat gimana? Ya hidup saja dengan haggul yaqin seturut pengalaman eksistensialnya tanpa terganggu perbedaan keyakinan yang nota bene semuanya juga prasangka!

Bagaimana menghidupi keyakinan eksistensial di atas prasangka yang belum pasti hoaks atau bukan?
Ya dengan doa, karena doa adalah buah kenyataan diri dan Tuhan. Kalau salah satu kenyataan ini dihapus, doa jadi hoaks. Guru dari Nazareth dalam bacaan teks hari ini mengajarkan doa yang menghindarkan orang dari hoaks. Orang diundang untuk haqqul yakin terhadap kenyataan ilahi dan manusiawi. Celakanya, orang yang diajarinya berdoa itu baru sampai pada level ainul yaqin (bahkan mungkin ilmul yaqin). Akibatnya?

Bahkan murid langsung dari Yesus itu tersesat. Ia mengira bahwa warta gembira itu terikat pada kultur Yahudi. Teks bacaan pertama menunjukkan teguran Paulus terhadap mereka yang begitu yakin bahwa keselamatan itu eksklusif milik kultur tertentu seakan-akan untuk selamat orang mesti bersunat, menggunakan bahasa asali, mengikuti ritual ini itu, dan seterusnya. Itu tak sejalan dengan isi doa yang diajarkan Guru dari Nazareth.

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan supaya kami semakin mampu percaya dengan segenap budi dan hati kami. Amin.


RABU BIASA XXVII  B/2
10 Oktober 2018

Gal 2,1-2.7-14
Luk 11,1-4

Rabu Biasa XXVII A/1 2017: Dasar Orang Bodoh
Rabu Biasa XXVII C/2 2016: Doa Nafas
Rabu Biasa XXVII A/2 2014: Don’t Forget the Poor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s