Romantika Beragama

Kalau seluruh penghuni bumi ini meluangkan waktu tiga menit saja untuk hening (berdoa), niscaya seluruh pertengkaran berakhir dan bumi hidup dalam kedamaian. Saya kira Anda memiliki kepercayaan terhadap kebenaran ajakan itu, seberapapun kadarnya. Saya sendiri percaya seratus persen, tetapi, ada tetapinya! Ungkapan itu dalam bahasa agama merupakan gambaran hidup surgawi. Kalau seluruh penghuni bumi ini meluangkan waktu tiga menit untuk berdoa, apalagi bersama-sama, ya kiamatlah sudah dunia ini.

Jadi, persoalannya bukan bahwa ungkapan tadi salah; ungkapan itu betul sekali, cuma tidak mengungkap keseluruhan misteri kehidupan dan paling banter cuma jadi penghiburan mereka yang romantis dalam hidup kerohaniannya. Maksudnya romantis: kembali kepada gambaran firdausi, Adam dan Hawa yang hidup dalam damai dan kenikmatan kekal.

Persoalannya justru bahwa dalam mewujudkan gambaran firdausi itu, tidak berlaku rumus matematika orang baik A + orang baik B = masyarakat baik, dan orang bisa saja terjebak dalam pilihan kontradiktif. Dalam bahasa Latin ada ungkapan “Qui desiderat pacem, bellum praeparat” yang artinya dia yang menginginkan damai, mempersiapkan perang. Bisa ditafsirkan dengan nuansa bermacam-macam tetapi jelaslah persoalannya bahwa tiap orang bisa punya konsep sendiri mengenai damai. Ada yang baru bisa damai kalau perutnya kenyang, ada yang bisa damai kalau duit suapnya cukup, ada yang ingin damai dengan mereka yang sudah ditindasnya, dan seterusnya.

Gambaran manusia pada umumnya, dalam teks bacaan hari ini kiranya tampak dalam diri Marta, sosok yang hendak menyenangkan hati Tuhan dengan segala kesibukan duniawinya. Apakah itu salah? Tentu tidak, orang beragama pun mesti bekerja, bersibuk diri dengan urusan duniawi. Guru dari Nazareth tidak mempersoalkan Marta sibuk dengan perkara duniawi. Yang dipersoalkannya, dalam bersibuk ria itu Marta tak berdamai dengan bisnis yang digumuli Maria: mendengarkan Sabda Allah.

Memang berdamai dengan bisnis Maria itu memuat perang juga: perang batin, perang dengan diri sendiri apakah mau meninggalkan proyek pribadi atau kelompok atau tidak. Ini digambarkan juga oleh Paulus dalam bacaan pertama. Untuk menyenangkan hati Allah, ia mengambil risiko besar bahkan meninggalkan tradisi dan kebiasaan sebelumnya. Apakah berarti orang mesti menanggalkan agamanya seperti Paulus itu? Tentu iya jika memang Tuhan menghendaki begitu. Akan tetapi, dari mana orang mengetahui kehendak Tuhan kalau tidak mendengarkannya dulu?

Saya kira di situlah poinnya: setiap orang mesti mendengarkan apa yang sesungguhnya diinginkan Tuhan dari hidupnya. Ini bukan soal ikut-ikutan Paulus atau ikut-ikutan kata bijak guru rohani, apalagi ikut-ikutan penulis blog ini (ntar jadi goblog atau giblig loh), melainkan soal mengerti sungguh mana pilihan yang lebih mengantar hidup orang pada konsolasi di tengah aneka kesibukan duniawi. Kabar baiknya, tak ada orang yang punya pengetahuan mutlak, murni, sehingga orang yang berbeda dapat memberi kontribusi bagi yang lainnya untuk menemukan pilihan yang lebih baik itu. Kabar buruknya, sebagian orang merasa punya pengetahuan mutlak, agama murni, kebaikan absolut, yang membuat cita-cita damai tadi jadi proyek perang untuk meniadakan satu sama lain!

Tuhan, mohon kepekaan hati supaya kami semakin mampu mengenali kehendak-Mu dalam kesibukan hidup kami. Amin.


SELASA BIASA XXVII B/2
9 Oktober 2018

Gal 1,13-24
Luk 10,38-42

Selasa Biasa XXVII A/1 2017: Kitab Tempe
Selasa Biasa XXVII C/2 2016: Capek Mencinta?
Selasa Biasa XXVII B/1 2015: Tertipu Agama

Selasa Biasa XXVII A/2 2014: Cinta Mengurai Benang Kusut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s