Capek Mencinta?

Pernahkah Anda mendengar ungkapan orang yang kelelahan dalam mencinta? Seorang ibu yang lelah mencintai anak, misalnya. Saya belum pernah mendengarnya. Yang pernah saya dengar ialah seorang ibu lelah memasak, mencuci, menyeterika baju, belanja, membersihkan rumah, dan sebagainya demi anak-anaknya. Itu bisa saya mengerti [wong saya bersih-bersih kamar satu jam saja bisa mengeluh capek]. Akan tetapi, belum pernah saya mendengar ungkapan bahwa seorang ibu capek mencintai anak-anaknya.

Kedatangan Yesus adalah kegembiraan bagi Maria tetapi kecapekan bagi Marta. Kehadiran Allah dalam hidup manusia pun bagi seseorang bisa melelahkan, padahal bagi yang lainnya menggembirakan. Loh, Romo ki piye sih! Kenapa melelahkan dipertentangkan dengan menggembirakan? Memangnya orang gembira gak boleh lelah dan orang lelah gak boleh gembira?

Ya justru itu, Brow, poinnya. Dalam konteks narasi Injil hari ini Marta menunjukkan kelelahan lebih daripada kegembiraannya. Memang dia tidak mengatakan capek mencintai Yesus, tetapi dikatakan secara jelas bahwa ia mengalami distraksi. Orang yang terdistraksi tidak dapat memaknai hidupnya [lha dengan apa memaknai, wong pikirannya aja sudah terdistraksi?] dan sudah disodorkan dalilnya di sini bahwa happiness ialah soal pemaknaan. Marta tak bisa memaknai kesibukannya melayani Yesus. Ia begitu sibuk dengan pikirannya sendiri dan hampir bisa dipastikan tak bisa menjawab pertanyaan mengapa dan apa yang dia kejar dengan kesibukan itu.

Jika orang sampai pada ungkapan ‘capek mencintai’, pada titik itulah ia perlu mencurigai dirinya sendiri: jangan-jangan memang dia justru belum pernah mencinta. Orang yang mencinta berangkat dari kedalaman dan tak terperangkap oleh hiruk pikuk luaran yang secara manusiawi jelas melelahkan. Maka, orang yang mencinta secara tulus justru takkan mengalami burnout karena dia tahu mana hiruk pikuk luaran yang diperlukan dan mana yang tidak. Artinya, dia takkan mengambil hiruk pikuk luaran yang tak diperlukan karena kelelahan yang dihasilkannya gak cucuk alias tak sepadan dengan kegembiraan yang diberikannya.

Akan tetapi, orang yang tidak burnout belum tentu juga mencinta secara tulus loh! Bisa jadi ia menikmati kesibukan dengan pikirannya sendiri karena eksekusi pikirannya begitu mudah: dengan mengabaikan suara orang lain, dengan keputusan sepihak, dengan kekuasaan, dengan jabatan, dengan kekerasan. Lha ya kalau gak pake’ jalur itu kapan kelarnya, kapan mendapat sesuatu yang diinginkan? Keburu masa jabatan selesai, keburu duitnya habis, keburu orang-orangnya susah diatur! Cape’ deh! Lagi, kalau orang sampai mengatakan ‘capek deh mencintai’, di situlah ia perlu mengkritisi dirinya sendiri: sedang mencintai atau sedang mencari pengakuan diri?

Jalan cinta memang jalan salib, dan jelas melelahkan (meskipun cintanya sendiri tidak melelahkan). Maka, yang perlu dimohon Marta sebetulnya bukan bantuan Maria untuk menyelesaikan hiruk pikuk luarannya, melainkan bantuan Maria untuk mendengarkan Sabda di kedalaman hatinya. Lha apa Maria bisa bantu? Gak tau, mungkin tidak bisa selain menunjukkan detail-detail hiruk pikuk luaran mana yang tak diperlukan. Sisanya, bergantung orang mau mengambil waktu hening untuk mendengarkan Sabda atau tidak. Kalau tidak, ya selamat berlelah-lelah dengan hasil yang gitu-gitu aja.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami mampu mendengarkan Sabda-Mu dalam hati kami. Amin.


SELASA BIASA XXVII
Pesta Wajib S. Fransiskus dari Assisi
4 Oktober 2016

Gal 1,13-24
Luk 10,38-42

Posting Selasa Biasa XXVII B/1 Tahun 2015: Tertipu Agama
Posting Selasa Biasa XXVII Tahun 2014: Cinta Mengurai Benang Kusut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s