Being Humane

Don’t think about who they are, but who you are! Itu kiranya tanggapan Yesus atas pertanyaan ahli Taurat mengenai kiat-kiat untuk mewarisi Kerajaan Allah. Ahli Taurat tak puas dengan jawaban Yesus yang merujuk pada Hukum Taurat atau Kitab Suci yang dia tekuni sendiri. Seolah-olah hendak menunjukkan daya kritisnya, ahli Taurat mempersoalkan siapa yang disebut sesama itu. Akan tetapi, Yesus malah menjawab kurang lebih seperti itu: ngapain ribut soal siapa mereka, ributkanlah siapa dirimu sendiri!

Ini persoalan identitas diri, dan Yesus menyodorkan alternatif jawaban jika Kerajaan Allah mesti dimengerti, sebagaimana dipikirkan oleh ahli Taurat itu, sebagai buah dari to-do list, dari rentetan apa yang harus dibuat orang. Ada tiga orang yang sedang dalam perjalanan: seorang imam, seorang dari kaum Lewi (yang tugasnya kira-kira berhubungan dengan profesi imam), dan orang Samaria (yang dicap kafir). Baik imam dan kaum Lewi itu ngeloyor pergi setelah melihat korban perampokan dengan kekerasan [ada kan yang ngrampok secara halus]. Mereka dalam perjalanan dan bisa pergi tanpa korban lemah setengah mati itu. Itulah identitas diri yang mereka bangun: aku bisa jalan meniti karier atau keselamatan hidup tanpa orang lemah tersingkir ini. [Saya teringat nisan seorang pendaki di Semeru; ia mati karena sakit dan ditinggal temannya, mungkin karena desakan dia juga, mendaki sampai puncak. Oh oh oh, kemanusiaan!]

Orang Samaria memang melanjutkan perjalanannya tanpa korban perampokan itu sih. Akan tetapi, mari lihat bahwa dalam perjalanannya itu ia tergerak oleh belas kasih dan merealisasikan belas kasih itu dengan P3K yang dia punya. Loh, siapa tahu memang dia itu anggota semacam PMI gitu, Mo? Poinnya bukan itu. Orang ini menyatakan identitas dirinya dengan apa yang dia buat terhadap orang lemah yang membutuhkan pertolongan. Ia tidak abai terhadap orang lain yang meregang nyawa akibat penindasan, abuse of power orang lain. Dia tidak indifferent, tidak jadi bystander!

Itulah prinsip yang disodorkan Yesus kepada ahli Taurat yang mencoba berwacana siapa yang disebut sesama. Ia berpikir soal apa identitas orang lain, tetapi Yesus mengingatkannya bahwa yang lebih penting ialah orang mau merealisasikan identitas dirimu seperti apa. Dalam Perjanjian Lama ada kisah kecil kakak adik bernama Kain dan Habel. Mereka melakukan ritual kurban bakaran dan Kain iri hati karena kurban adiknya diterima Allah dan kurban persembahannya tak diindahkan Allah. Kain membunuh adiknya. Pikirnya, dengan demikian kurbannya akan diterima Allah, lha wong gada pilihan lagi, yang bikin kurban persembahan tinggal Kain seorang. Allah mau gak mau tinggal mengindahkan kurbannya.

Akan tetapi, apa lacur, Allah mempertanyakan di mana adiknya, dan Kain berteriak lantang,”Ga tau! Lu kira gw penjaga adik gw po?!” Kain tidak hanya jadi bystander, ia menyangkal tanggung jawab atas kaum keluarganya sendiri, atas kemanusiaan yang diberikan Allah. Ia pikir, ia sukses, sukses sendiri; kaya, kaya sendiri; mati, mati sendiri. Orang lemah dan tersingkir itu tak relevan. Itu salahnya sendiri: malas, bodoh, ngeyel.

Tuhan, bantulah kami supaya menjadi manusia yang berkaum, terutama dengan mereka yang lemah dan tersingkir. Amin.


SENIN BIASA XXVII
3 Oktober 2016

Gal 1,6-12
Luk 10,25-37

Posting Senin Biasa XXVII B/1 Tahun 2015: Menjadi Sesama
Posting Senin Biasa XXVII Tahun 2014: Orang Samarinda yang Baik Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s