Doa Nafas

Berdoa itu seperti bernafas. Prinsipnya sama: dibutuhkan untuk survival. Bedanya, berdoa sifatnya gak wajib [Gak heran, banyak orang tidak berdoa]. Lah, emangnya bernafas itu wajib? Iya, tentu bukan dalam arti moral: orang ‘wajib’ bernafas kecuali ketika ia mesti melakukan yang sebaliknya (tahan nafas) untuk survival.  Sebaliknya, berdoa itu gak wajib. Ia tetap bisa survive tanpa berdoa, sejauh organ-organ tubuhnya berfungsi secara wajar. 

Yahaha, Romo itu pakai standar ganda. Lha berdoa kok diletakkan pada level survival fisik biologis, jelas gak wajib dong sifatnya! Eaaaa Anda betul, tetapi mungkin ada baiknya kita lihat lebih detail lagi soal doa berdoa ini, apakah sifatnya memang wajib untuk survival kerohanian atau tidak. Mari lihat apa yang dikisahkan pada Injil hari ini. Yesus berdoa seorang diri (maklumlah, jomblo) dan setelah dia selesai berdoa, murid-muridnya meminta supaya ia mengajari mereka berdoa seperti diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya. 

Doa macam apa yang diajarkan Yohanes Pembaptis kepada murid-muridnya? Tak ada keterangan dalam Kitab Suci mengenai hal itu. Mungkin, jika ditilik dari seruan pewartaannya (bdk. Mat 3,1-3), doa Yohanes lebih bernuansa tobat, sebagai persiapan diri untuk menyambut Kerajaan Allah. Apakah Yohanes mengajarkan doa itu kepada semua orang Yahudi? Tampaknya tidak dan dari sekian banyak orang yang diajaknya untuk bertobat itu pun tidak semuanya merealisasikan doa yang diajarkan Yohanes.

Lha, sekarang nongol Yesus dan murid-muridnya ingin belajar doa dari guru mereka, seperti diajarkan Yohanes Pembaptis kepada murid-muridnya. Yesus mengajarkan doa yang berbeda dari ritual Yahudi maupun barangkali doa yang diajarkan Yohanes Pembaptis. Ia menanggapi permintaan mereka dengan suatu rumusan doa tertentu: Bapa kami yang ada di surga, bla bla bla.

Apakah Yesus sedang mengajarkan suatu rumus atau mantra? Tidak. Kalau Yesus ini konsekuen, tentu bukan perang rumus doa atau mantra yang disodorkannya. Ia tahu bahwa di dunia ini ada banyak cara dan rumusan doa, dan tak masuk akallah dia memutlakkan salah satunya, termasuk yang disodorkannya sendiri! Berarti, perhatian Yesus tidak terletak pada rumusannya sendiri, tetapi pada roh yang menjiwai rumusannya.

Ironis memang, pengikut Yesus lantas memakai rumusan itu untuk membuat sekat: kalau rumusanmu begitu, kamu tidak berdoa secara Katolik; bahkan lebih sadis lagi, hanya karena kata ‘seperti’ berbeda arti dengan ‘dan’, lantas yang memakai kata ‘dan’ itu dipersalahkan dan dianggap tidak masuk surga, misalnya. Di situ, orang mulai akrab dengan doa sebagai kewajiban, sebagai ritual, sebagai tampilan.

Yesus lebih concern pada relasi pribadi dengan Allah yang perlu dibangun. Ini tidak wajib sifatnya, bergantung seberapa jauh orang merasa butuh relasi pribadi itu. Maka dari itu, berdoa memang bukan kewajiban. Ketika doa menjadi kewajiban, saat orang jadi kompulsif dengan doa, ia perlu waspada jangan-jangan doa itu tinggal sebagai ritual belaka yang harus dijalankan pada jam-jam tertentu, apapun situasinya. 

Yesus mengundang siapa saja untuk menerima doa sebagai kebutuhan untuk membangun relasi pribadi (tidak sama dengan privat!) dengan Allah sebagai Bapa bagi semua orang. Doa macam ini bisa diintegrasikan dengan nafas, yang sifatnya wajib, tetapi bukan ritual.

Allah yang Maharahim [inhale], kasihanilah kami [exhale].


RABU BIASA XXVII
5 Oktober 2016

Gal 2,1-2.7-14
Luk 11,1-4

Posting Rabu Biasa XXVII B/1 Tahun 2015: Mari Berjoged
Posting Rabu Biasa XXVII Tahun 2014: Don’t Forget the Poor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s