Mbok Serius

Ini ulasan lanjutan kemarin mengenai “doa nafas” yang kerap kali jadi skandal untuk orang beriman. Kok skandal? Kenapa jadi batu sandungan? Saya juga gak tau kenapa; silakan tanya pada mereka yang menganggapnya sebagai skandal. Barangkali Anda sendiri yang menganggapnya skandal. Omong apaan sih, Mo?

Ya kemarin kan dikisahkan bagaimana para murid meminta supaya si guru mengajari mereka berdoa seperti yang diajarkan guru-guru lain. Guru yang namanya Yesus ini gak ngajari rumusan, melainkan roh doa yang bergerak dalam ranah relasi pribadi dengan Tuhan, dengan Allah yang menjadi Bapa bagi siapa saja, sedemikian rupa sehingga doa itu benar-benar jadi seperti nafas kehidupan. Dari doa macam ini, setiap tindakan yang konsekuen dengan doanya, terealisasikan Kerajaan Allah yang menjadi hak segala bangsa yang menyembah satu Tuhan itu. 

Hari ini Yesus memberi penegasan terhadap ‘doa nafas’ itu dan penulis Lukas mengatakan bahwa Allah pasti mendengar doa orang beriman. Jadi, percayalah, Dia maha mendengar! 

Kenapa itu jadi skandal? Karena pada kenyataannya, menurut anggapan sebagian orang, doa orang tak senantiasa didengar Tuhan. Sekian puluh tahun berseru kepada Tuhan, tak ada perubahan: tetap sakit, tetap sial, tetap miskin, tetap tertindas, tetap jadi bulan-bulanan orang yang (sok) kuasa, tetap tak ada mukjizat, dan seterusnya. Ini skandal dongGak betul itu yang dikatakan Yesus bahwa Tuhan mendengar seruan pendoa. Jadi, saran supaya orang berdoa tiada henti itu nonsense.

Akan tetapi, mengapa tidak kita cermati sih skandal itu? Taruhlah bahwa memang Allah tak mendengar doa kita. Kenapa ya? Mungkin karena memang arah doa orang tak tertuju pada Allah, tetapi pada lembaga asuransi atau spesies tertentu yang bisa memastikan bahwa yang diinginkan orang itu terlaksana. Orang bisa jadi punya gambaran Allah yang sesat dan kepada Allah yang sesat itulah ia mengajukan doanya. 

Hari ini saran Yesus sebetulnya sederhana. Kalau memang memohon sesuatu yang baik, mohonlah secara sungguh-sungguh: cari penalaran yang baik, cari alasan yang mulia, cari penyokong yang menunjukkan kebutuhan yang dimohonkan, diikuti oleh tindakan yang sesuai dengannya. Ada loh pengemis yang cuma mematung di sebelah mobil yang berhenti di lampu merah; sudah gak punya tampang mengemis, tidak pula menunjukkan gerakan mengemis, bagaimana orang tahu bahwa dia mengemis? Mungkin mahasiswa yang sedang latihan mental doang.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami bertekun dalam jerih payah usaha dan penyerahan diri kepada penyelenggaraan-Mu. Amin.


KAMIS BIASA XXVII
6 Oktober 2016

Gal 3,1-5
Luk 11,5-13

Posting Kamis Biasa XXVII B/1 Tahun 2015: Susahnya Meminta
Posting Kamis Biasa XXVII Tahun 2014: Keinginan Yang Melecehkan Kebutuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s