Sedihnya Jadi Pastor

Ini sharing, bukan komentar terhadap teks Kitab Suci, meskipun inspirasinya dari sana. Kemarin sudah tersinggung soal skandal, dan hari ini bisa ditanyakan lagi dengan rumusan yang sedikit berbeda: pernahkah Anda merasa terganggu oleh bagian kelam dari kenyataan hidup? Jawabannya pernah, bahkan sering [loh kok jadi gua yang jawab?]! Kalau begitu, semakin jelaslah suatu kebenaran yang sering kita abaikan, yaitu bahwa hidup ini merupakan pergumulan batin. Kalau tidak, orang tak akan mempersoalkan aneka skandal: emang gue pikirin, tiap orang bebas, terserah mau ngapain, risiko ditanggung sendiri, gak usah mengeluh!

Justru karena hidup adalah pergumulan batin, sisi kelam kehidupan itu merisaukan, mengundang tanya, protes, jeritan yang bisa menuntun orang pada pengasingan dirinya sendiri dari kehidupan: depresi, loyo, ekstase, sakaw, dan sebagainya. Pokoknya, orang terjauhkan dari diri sendiri, dari kebenaran hidup karena kekuatan samar yang menghambatnya untuk bahagia dan bebas.

Pekerjaan saya ada di ranah itu (pergumulan batin), tetapi kebanyakan orang menangkapnya secara keliru, persisnya secara reduktif: mempersempit ranah bisnis saya pada persoalan moral. Akibatnya, pasti ada saja orang yang meminta bantuan supaya anaknya lebih rajin ke gereja, tidak naik motor tanpa helm, mematuhi peraturan lalu lintas dan sebagainya, seolah-olah saya ini adalah penjaga moralitas masyarakat!

Loh, lha ya memang Romo itu penjaga moralitas, bukan?
Moralitas mbahmu! 
Penjaga moralitas ya orang-orang yang ada dalam jangkauan moralitas itu, entah penjahat, pelacur, birokrat, gubernur, pemahat, kreditur, anak-anak, maupun orang uzur.
Lho, lha iya, Romo kan termasuk di dalamnya juga; berarti penjaga moralitas, kan?
Waaaahahaha…. ketawa aja deh!

Semuanya ya memang penjaga moralitas, entah orang beriman atau ateis, tetapi setiap orang punya perannya sendiri-sendiri. Saya tidak mau ambil peran polisi atau hakim atau birokrat. Peran saya ada di ranah pergumulan batin itu tadi. Maka, kalau orang datang pada saya dan mengeluh karena anaknya sering membolos sekolah, melanggar aturan, dan lain sebagainya yang secara moral dianggap buruk, saya takkan pernah membuat target untuk membuat anak itu lebih rajin, disiplin, dan sejenisnya. Saya lebih peduli pada pergumulan batin anak itu sendiri yang membuatnya malas, serampangan, dan sejenisnya. Apakah itu memecahkan persoalan? Bergantung orangnya toh ya!

Sayangnya, kesalahpahaman orang tentang profesi saya itu juga dipupuk oleh aneka kotbah pastor yang sangat moralistik: rajin-rajinlah berdoa, aktiflah di gereja, pedulilah orang miskin, banyaklah beramal, dan sebagainya.
Lha, emangnya gak boleh menyarankan pesan moral seperti itu?
Justru pertanyaan itulah yang menjadi petunjuk jelas bahwa orang mereduksi hidup sebagai problem moral belaka. Apakah orang tidak bisa melihat lebih jauh lagi daripada sekadar frekuensi orang ke gereja, seberapa banyak memberi sumbangan dan lain sebagainya?

Kalau orang malas ke gereja, ke masjid, ke vihara, dan macam-macam itu, saya tidak berpikir soal baik buruknya orang itu sebagai orang Katolik, Islam, atau Buddha. Saya lebih concern pada apa yang berkecamuk dalam batin orang itu, apa yang dirindukannya, apa yang dikejarnya, dan bagaimana dia menggumulinya dalam terang iman kepada Tuhan yang dipercayainya. 

Ya Tuhan, mohon rahmat untuk menyebul kekuatan Beelzebul dalam diri kami. Amin.


JUMAT BIASA XXVII
7 Oktober 2016

Gal 3,7-14
Luk 11,15-26

Jumat Biasa XXVII B/1 2015: Agama Frustrasi
Jumat Biasa XXVII A/2 2014: Dari Jongos ke Bos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s