Revolusi Spiritual

Ini sharing lagi (sama dengan curhat po?), bukan gossip. Sedih lagi, tapi bukan pedih. Seharian memberi kuliah dan ada banyak pertanyaan penting dari orang-orang muda (yang saya sendiri tak punya feedback apakah pertanyaan mereka itu terjawab). Rasa sedih itu muncul salah satunya karena saya cukup keras memelintir kata seorang penulis celtic spirituality yang berbunyi: society functions in an external way, its collective eye does not know interiority, it sees only through the lens of image, impression and function. Pelintiran saya terjadi pada kata society, yang saya ‘terjemahkan’ dengan kata agama.

Syukur kalau yang mendengar ungkapan itu kritis, sehingga tidak secara mentah memutlakkan gagasan tentang fungsi agama seperti itu (karena selain unsur komunitas, ‘agama’ punya unsur personal, yang dengannya bisa mengenal interioritas). Kalau pendengarnya tidak kritis, bisa jadi malah tidak melihat pokok persoalannya, dan dengan begitu saya tak memelihara rasa sedih dan rasa bersalah itu, hahehihohu…

Saya tetap berkeyakinan bahwa Yesus tidak hendak merongrong otoritas agama Yahudi, ia hendak memberi catatan keras kepada otoritas institusi yang hanya berfungsi secara dangkal sebagai penata aspek luar atau eksterior. Rasa saya, Yesus ‘hanya’ ingin mengatakan bahwa yang eksterior itu baru benar-benar kokoh kalau didirikan di atas interioritas atau kemendalaman. Interioritas itu tak lain adalah perjumpaan dengan (Sabda) Allah sendiri.

Salah satu pergumulan yang dibagikan seorang mahasiswa muslim berkenaan dengan perkembangan era digital saat ini adalah konsep mengenai Alquran. Ada tata cara tertentu untuk membaca Alquran; tetapi kalau Alquran itu tertera dalam aplikasi, dalam tablet, dalam android, njuk bagaimana mesti menyikapinya? Saya sama sekali tak merasa diri kompeten untuk menjawabnya. Akan tetapi, dalam ketidaktahuan semacam itu, saya yakin seyakin-yakinnya, yang penting orang jujur pada pengalaman interioritasnya sendiri: apa yang hidup di kedalaman hati pada saat berhadapan dengan fenomena seperti itu, relasi perjumpaan pribadi dengan Yang Transenden atau cuma muter-muter dalam faktor eksternal itu (aturannya, bentuknya, hasil yang diidamkannya sendiri).

Dari mana orang tahu bahwa ia mengalami perjumpaan pribadi dengan Yang Transenden itu? Pengetahuannya datang belakangan, dalam refleksi, dan hatinya ‘berkobar-kobar’, memberi hidup, membahagiakan, memberi makna, inspirasi, energi, vitalitas hidup, kreativitas, keberanian untuk mencemplungkan diri sebagai pribadi yang autentik. Singkatnya, dari perspektif orang seperti saya, interioritasnya menyeruak dalam harapan, iman, dan cintanya; kepada Tuhan dan sesama. Karena itu, pujian pantas diberikan pertama-tama bukan kepada aneka status atau prestasi eksternal, melainkan pada kualitas hidup interior.

Njuk di mana revolusi spiritualnya ya? Ya dalam switch cara pandangnya. Memang kontradiktif menyebutkan revolusi spiritual karena yang interior itu bekerjanya dalam aliran kebebasan, tanpa paksaan dari yang eksterior, maka umumnya ya terjadi perlahan-lahan. Masalahnya, untuk berani masuk ke dalam ranah yang ‘perlahan-lahan’ itu, dalam relasi dengan Allah sendiri, justru dibutuhkan sikap revolusioner, bukan fundamentalis.

Ya Tuhan, mohon rahmat supaya kami semakin menjadi pribadi autentik dalam ziarah hidup bersama-Mu. Amin.


SABTU BIASA XXVII
8 Oktober 2016

Gal 3,22-29
Luk 11,27-28

Posting Sabtu Biasa XXVII B/1 Tahun 2015: Gosip Ah…
Posting Sabtu Biasa XXVII Tahun 2014: Lebih Baik dari Asi, Adakah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s