Agama Frustrasi

Mungkin taktik maling yang kepepet ialah meneriakkan ‘maling’ terhadap orang lain yang cocok sebagai korban untuk jadi stuntmannya. Begitu pula bisa dimengerti orang yang frustrasi terhadap dirinya sendiri, lantas mulai mencari-cari kesalahan pihak lain. Yesus yang mengusir roh jahat (Luk 11,14) pun dikomentari sebagai orang yang perbuatannya diabolik, berbau-bau atau dituntun oleh setan.

Teks Injil yang dibacakan hari ini bicara mengenai argumentasi Yesus terhadap tuduhan para ‘maling’ tadi setelah ia mengusir roh jahat. Pada saat itu kebanyakan orang berpendapat bahwa setan mendominasi dunia melalui roh-roh jahatnya. Anehnya, ketika Yesus mengusir roh jahat, sebagian orang menuduhnya bertindak atas kuasa dari setan itu. Lha, rak lucu toh kalau bos koruptor meminta KPK untuk membersihkan korupsi di lembaganya yang korup?! Cari mati.

Orang-orang yang menuduh Yesus mengusir roh jahat dengan restu setan sewajarnya gembira dong. Kenapa? Karena jika begitu halnya, kerajaan setan takkan bertahan lagi dan jayalah kerajaan Allah. Akan tetapi, kenyataan tidak menunjukkan begitu. Maksudnya, mereka berkomentar begitu justru karena menyangsikan kuasa Yesus yang berasal dari Allah. Pokoknya waton sangsi, asal mengkritik aja, yang penting orang itu tidak bisa membenarkan klaimnya bahwa kuasanya dari Allah. Akibatnya, malah serba salah juga mereka: kalau mengakui kuasa Yesus dari Allah kok ya mereka gak percaya, kalau menyebutnya dari setan kok ya gak logis.

Mereka yang menyangkal Yesus (termasuk Petrus) gagal melihat kenyataan apa adanya dan menukar Roh Kudus dengan Beelzebul, penghulu setan. Dengan perumpamaan Yesus menyatakan bagaimana hirarki kekuatan berlaku juga dalam ranah rohani (yang tak bisa dicampuradukkan begitu saja dengan struggle for the fittest). Ia mengatasi godaan saat berpuasa (Luk 4,1-13) dan pengusiran setan jelas menyatakan bahwa ia lebih kuat daripada roh-roh jahat manapun. Teks ini memang menggambarkan frustrasinya para pemimpin agama yang saking benci dan putus asanya dengan Yesus lalu memberi label Beelzebul itu, menganggap Roh Kudus sebagai Beelzebul.

Jangan-jangan, kalau orang frustrasi atau putus asa dengan upaya kebaikan, ia malah sedang disusupi Beelzebul. Kalau ia beragama, agamanya adalah agama frustrasi. Kalau ia tak beragama, semakin nyamanlah penyusupan Beelzebul melalui aneka rasionalisme yang bisa jadi barang pecah belah.

Tuhan, berilah kami kekuatan secukupnya untuk tak berputus asa dengan kebaikan-Mu yang perlu kami wartakan. Amin.


HARI JUMAT BIASA XXVII B/1
9 Oktober 2015

Yl 1,13-15;2,1-2
Luk 11,15-26

Posting Tahun Lalu: Dari Jongos ke Bos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s