Susahnya Meminta

Ada saat ketika permohonan seorang anak berubah menjadi imperatif. Pada saat itulah orang tuanya bisa kebingungan bagaimana meredam anaknya yang terus menerus merengek meminta sesuatu. Itu sesuatu yang lumrah terjadi dalam hidup berkeluarga. Runyamnya, jika orang tua tak bisa menghandle konflik seperti itu, anak akan belajar mengasah ketrampilan untuk main kuasa. Siapa yang berteriak paling keras, dialah yang akan menang. Siapa yang bisa menakuti orang lain, dialah yang akan mendapat apa yang diinginkannya. Lebih runyam lagi kalau anak-anak seperti ini tak pernah mengerti persoalan ini dan di kemudian hari mendapat posisi otoritatif dalam lingkup yang lebih luas.

Memang teks Injil hari ini menyatakan: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu (Luk 11,9 ITB). Wajarlah umat beriman mengajukan satu dua permohonan kepada Tuhan dengan aneka variasi doa: novena, koronka, rosario, dan aneka macam devosi lainnya. Akan tetapi, pesan utama perikop Injil hari ini tidak terletak pada upaya doa devotif tiada henti. Pesan utamanya terletak pada ayat-ayat terakhir: jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya (Luk 11,13 ITB). Artinya, Allah tentulah memberikan sesuatu yang baik kepada umat beriman. Apa sesuatu yang baik itu? Dalam teks jelas dikatakan ‘Roh Kudus’; jadi ini pasti bukan soal pemberian pekerjaan, rumah, kemenangan dalam pertandingan, kelulusan ujian, dan sebagainya.

Elemen pertimbangan anak-anak kiranya jauh lebih didominasi oleh keinginan daripada oleh kebutuhan; tetapi jangan kira bahwa masa anak-anak itu berhenti pada umur 5 tahun! Tak sedikit orang yang umurnya berlipat-lipat daripada anak balita itu masih belum bisa memilah-milah antara keinginan dan kebutuhan; antara mana yang menyenangkan dan mana yang diperlukan. Demikianlah terjadi, seperti seorang anak, orang-orang berusia banyak pun mengalami kesulitan untuk meminta dan lebih fasih untuk memerintah. Alih-alih mengatakan,”Tolong ambilkan mainan saya,” orang lebih nyaman memakai rumus imperatif,”Ambilin mainan gue sini!” Tentu, rumus imperatif antarkawan, antarsahabat, tidaklah problematis.

Repotnya, relasi orang dengan Allah tidaklah sesederhana relasi dengan kawan atau sahabat atau suami/istri sekalipun. Relasi horisontal cenderung berisiko tinggi mencampakkan orang pada relasi kekuasaan. Ya itu tadi, seperti anak-anak, orang lebih sibuk dengan keinginan daripada dengan apa yang sungguh-sungguh diperlukannya dalam hidup. Dalam atmosfer itu, tindakan meminta sama sekali bukan tindakan mudah karena orang harus menghancurkan keinginan-keinginannya, seolah-olah menghancurkan harga dirinya. Dibutuhkan kerendahan hati untuk meminta: meminta bantuan, meminta tolong, meminta maaf. Itu juga yang dibutuhkan oleh umat beriman ketika mereka meminta sesuatu dari Allah.

Allah tidak memberikan apa saja yang diinginkan umat beriman, tetapi memberikan yang baik, yang sungguh mereka butuhkan. ‘Yang baik’ itu bisa dijadikan alasan untuk mengatakan ‘Allah jahat’ karena orang menjadi budak keinginan lebih daripada Roh Kudus. Benarlah kebijakan Buddhisme yang meletakkan keinginan sebagai akar penyebab kesengsaraan hidup, yaitu keinginan yang menjadi attachment atau kelekatan sehingga dalam bawah sadarnya orang cuma punya pilihan ‘harus begini atau harus begitu’ atau ‘kiamat’.

Ya Tuhan, berilah aku semangat lepas bebas dan kerendahan hati agar aku lebih mampu mengandalkan hidupku kepada-Mu. Amin.


HARI KAMIS BIASA XXVII B/1
8 Oktober 2015

Mal 3,13-20a
Luk 11,5-13