Mari Berjoged

Kemarin ditegaskan bahwa umat beriman tak pernah bisa berpuas diri dengan apa yang formal, dengan paham Allahnya, dengan apa yang dianggapnya baik, dan seterusnya. Itu masuk akal karena wahyu Allah sendiri tak pernah terkungkung oleh pembakuan agama. Ini ditunjukkan juga oleh bacaan-bacaan hari ini.

Umat Yahudi mengakui bahwa Taurat menjadi medium Allah untuk berkomunikasi dengan manusia. Maka dari itu, pentinglah membaca Kitab Suci sebagai wahyu objektif yang diterima umat Allah. Melalui Kitab Suci Sabda Allah terakses oleh manusia beriman. Ini adalah kebenaran yang diterima secara objektif oleh kelompok umat beriman. Tak mengherankan bahwa Gereja Katolik Indonesia mengkhususkan bulan lalu sebagai bulan Kitab Suci. Akan tetapi, teks Injil hari ini menunjukkan dengan jelas bahwa Sabda Allah juga datang kepada Maria tidak melalui Kitab Suci, tetapi dari pengalaman mendalamnya akan Allah yang digambarkan terjadi melalui malaikat.

Memang pengalaman Maria itu sendiri terbakukan dalam Kitab Suci, sebagaimana Kristus sebagai pewahyuan Diri Allah tertera dalam Kitab Suci. Gereja Katolik sendiri meyakini bahwa wahyu publik selesai dengan kematian rasul terakhir. Akan tetapi, keyakinan itu jelas tidak mau mengatakan bahwa Allah selesai dengan pekerjaan-Nya, bahwa Allah berhenti mewahyukan Diri atau berhenti mencipta. Ia tetap terus mengkomunikasikan Diri melalui sarana apa saja (manusia, kitab, alam semesta) sebagaimana Ia berkomunikasi dengan Maria. Dalam komunikasi itulah terbangun iman yang dinamis, yang disimbolkan dengan tanya jawab sewajarnya antara Maria dan malaikat Tuhan.

Dinamika iman macam itu terjaga justru karena Maria memiliki sikap iman seperti kaum muslim: penyerahan diri secara total sebagai hamba kepada kehendak Allah sendiri (Luk 1,38). Kata ‘hamba’ di situ erat terkait dengan atribut yang dipakai dalam Kitab Yesaya (42,1-9; 49,3-6) yang kiranya berdampak pada warta anak tunggal Maria, yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani (Mat 20,28). Melayani siapa? Melayani Allah sendiri. Pelayanan ini tak bisa dijalankan sendiri terpisah dari komunitas umat beriman. Bacaan dari Kisah Para Rasul menunjukkan bagaimana Maria toh tetap dalam persekutuan dengan para rasul dan umat beriman lain. Itulah creative fidelity yang membuat tarian kehidupan umat beriman menjadi indah. Ya, menjadi indah karena merupakan tarian Allah sendiri yang begitu kolosal sepanjang sejarah.

Ya Tuhan, berilah kami pemahaman yang cukup atas iman yang ditularkan oleh para pendahulu kami dan ikut menarikan cinta-Mu. Amin.


HARI RABU BIASA XXVII B/1
Peringatan Wajib Santa Perawan Maria, Ratu Rosario
7 Oktober 2015

Kis 1,12-14
Luk 1,26-38

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s