Cinta Kampret

Dalam pelajaran agama Katolik di SMP saya dulu, ada frase yang diperkenalkan sebagai istilah kunci hirarki Gereja Katolik: Paus sebagai wakil Allah di dunia. Namanya juga anak-anak, saya belum kenal istilah heuristik, metafora, letterleijk, sedemikian rupa sehingga wakil Allah itu saya mengerti sungguh-sungguh sebagai pintu gerbang yang tanpanya orang tak bisa mengakses Allah. Mungkin begitu juga yang ditangkap sebagian besar orang Katolik sehingga seakan-akan relasi mereka dengan Tuhan sungguh dibatasi oleh paus, wakil-Nya tadi, dan tumbuhlah mental pastorsentris dalam diri umat, apa-apa saja menunggu apa kata pastornya.

Pada kenyataannya, wakil Allah tidak sesederhana dan senaif itu. Itu bisa dimengerti dengan melihat lembaga yang disebut Dewan Perwakilan Rakyat, misalnya. Fungsi perwakilannya bisa tepat sasaran, tetapi bisa juga meleset. Fungsi meleset inilah yang digambarkan dalam narasi teks hari ini. Ceritanya ada korban perampokan yang tergeletak di pinggir jalan dan seorang imam melewati TKP dan melihat korban itu dari seberang jalan, lalu ngeloyor pergi saja. Tentu ceritanya bisa dikembangkan: imam itu ngeloyor dan menghubungi orang-orang dekatnya untuk membantu korban tadi karena ia sendiri saat itu tak bisa berkutik. Akan tetapi, teks bacaannya tidak mengarah ke skenario itu. Imam ngeloyor pergi begitu saja, tak jelas apa alasannya.

Orang kedua yang melakukan hal serupa ialah kaum Lewi, yang adalah spesialis urusan liturgi, ibadat, puji-pujian kepada Allah, produsen imam pemimpin agama. Kelompok pemuja kaum seperti ini, mirip dengan mereka yang pastorsentris tadi, punya keyakinan bahwa yang pokok ialah orang patuh pada aturan main yang sudah ditentukan dalam beragama. Tak ada pengecualian apapun. Hidup ini cuma hitam putih. Tak sedikit orang beragama yang berkeyakinan seperti ini dan jadi penggembira klerikalisme dan legalisme. Apa-apa saja mesti bergantung pada aturan pengurus hidup keagamaan tanpa sungguh melihat kompleksitas kehidupan.

Dalam teks hari ini, dua orang itu tidak bisa dikategorikan sebagai wakil Allah di dunia ini. Tidak bisa juga disebut sebagai representasi cinta Allah. Cinta kampret iya. [Ini bukan istilah politik lho ya, kan sudah ditegaskan supaya di tahun politik ini hoax dihindarkan dan tak usahlah memberi sebutan kampret dan kecebong untuk dua kubu.]

Wakil Allah di dunia ini justru direpresentasikan oleh orang ketiga dalam narasi hari ini: orang yang dicap kafir. Justru orang kafirlah yang jadi wakil Allah. Apakah ini berarti lebih baik bermoral meskipun kafir daripada beragama tapi koruptor atau teroris? Itu sudah dibahas pada posting Agama Tak Menjamin Moralitas. Teks hari ini tidak omong soal relasi agama dan moralitas, tetapi soal bagaimana orang bisa jadi wakil Allah untuk menjadi sesama satu bagi yang lainnya. Itu tidak dicapai dengan klerikalisme maupun legalisme atau bahkan -isme-isme lainnya, tetapi dengan bela-rasa kemanusiaan yang menyeberang jalan, lintas batas, sebagaimana direpresentasikan oleh orang Samaria dalam narasi hari ini. Jadi, kalau orang beragama mengklaim cinta lewat klerikalisme atau legalisme, ia sedang menjajakan cinta kampretnya.

Tuhan, mohon rahmat keberanian supaya kami tidak salah jalan dan terperosok dalam cinta kampret. Amin.


SENIN BIASA XXVII B/2
8 Oktober 2018

Gal 1,6-12
Luk 10,25-37

Senin Biasa XXVII B/2 2017: Mirip Siapakah Anda? 
Senin Biasa XXVII A/1 2016: Being Humane
Senin Biasa XXVII B/1 2015: Menjadi Sesama

Senin Biasa XXVII A/2 2014: Orang Samarinda yang Baik Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s