Mirip Siapakah Anda?

Saya punya dua dosen yang hampir selalu mengajar bersama di kelas. Yang satu anggota jemaat Gereja Kristen Jawa dan yang lain adalah seorang Muslim dari Makasar. Yang Kristen ini punya darah Amerika, dan yang Muslim ini, entahlah, mungkin punya darah Arab. Pokoknya dua-duanya bersama mengajar teori sosial mengenai agama dan masyarakat. Sudah sekian lama mengajar bersama dan mungkin sudah begitu saling kenal. Sekurang-kurangnya dua kali saya mendengar bagaimana sang dosen berdarah Amerika ini menyampaikan ilustrasi yang bisa dipakai untuk membaca perumpamaan teks hari ini. Tentu dia tidak sedang menafsirkan teks hari ini. Ini cuma asosiasi saya yang muncul setelah saya membaca teks hari ini.

Pokok persoalannya sudah dijelaskan dalam posting dua tahun lalu: menjadi sesama. Pertanyaannya bukan lagi siapakah sesama itu, sebagaimana ditanyakan kepada Yesus [yang barangkali adalah pertanyaan standar dari murid kepada para rabbi]. Pertanyaannya ialah: mau menjadi sama dengan siapa? Yang disodorkan dosen saya itu ialah bahwa pada kenyataannya, meskipun ia dan Trump berdarah Amerika dan Kristen, ia lebih mirip dengan partner dosennya, yang Muslim dan Makasar, daripada dengan Trump. Jadi, kalau terjadi apa-apa dengan Trump, dosen saya ini pasti tidak punya perhatian lebih daripada sesuatu yang menimpa teman dosennya, yang Muslim dan Makasar.

Itu hendak menunjukkan bahwa dosen berdarah Amerika dan Kristen ini lebih memiliki ikatan afektif dengan teman dosennya yang Muslim dan Makasar daripada dengan Trump yang sama-sama Kristen dan Amerika. Apa yang memungkinkan ikatan afektifnya lebih dekat dengan teman dosennya? Visi-misi, pemikiran, keprihatinan, cita-cita, harapan akan kemanusiaan yang mirip atau klop. Ikatan seperti ini lebih realistis daripada solidaritas semu yang didasarkan pada sentimen agama atau suku, misalnya.

Sayang beribu sayang, barangkali solidaritas semu bersentimen agama itu lebih laris bagi orang-orang yang hidup keagamaannya dangkal. Orang yang hidup beragama secara dangkal justru jadi alat yang paling mudah dipakai oleh kepentingan selain iman yang senantiasa bersifat universal. Tak mengherankan, orang-orang seperti ini bisa dengan enaknya menerapkan standar ganda: kalau you macam-macam dengan penganut agama yang gua anut, you gua sikat. Kalau orang yang agamanya sama dengan agama gua dan dia korupsi, lu gua sikat juga, karena korupsi demi agama itu baik. Lah lah lah, ini malah mempertuhankan agama…

Kalau orang benar-benar mendalami agamanya, ia akan sampai pada kesadaran bahwa Allah hendak merangkul semua saja, khususnya mereka yang terabaikan dan ini bukan orang-orang nun jauh di sana dengan kesamaan label agama, melainkan orang-orang di sekitar yang hidupnya tergilas oleh sistem dan orang yang korup. Amin.


SENIN BIASA XXVII A/1
9 Oktober 2017

Yun 1,1-17;2,10
Luk 10,25-37

Senin Biasa XXVII C/2 2016: Being Humane
Senin Biasa XXVII B/1 2015: Menjadi Sesama

Senin Biasa XXVII A/2 2014: Orang Samarinda yang Baik Hati

4 replies

      • Betul, tetapi justru dalam sepenggal cerita itu ditunjukkan kontrasnya: yang menolong justru orang Samaria; korbannya pasti bukan orang Samaria (karena turun dari Yerusalem). Jadi justru sentimen ‘akrab’ tidak disodorkan dalam sepenggal cerita ini.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s