Kitab Tempe

Dua tahun lalu ada berita heboh tentang kertas tulisan Kitab Suci yang dijadikan bungkus tempe (setelah beberapa saat sebelumnya dijadikan pelapis terompet). Tentu saja, terhadap hal itu bisa muncul ke permukaan orang-orang yang naif dengan komentar-komentarnya, bagaimanapun kenaifan itu mau diperingkatkan. Akan tetapi, terlepas dari kontroversinya sendiri, kalau orang beriman itu mau berpikir simbolik sedikit, bukankah itu malah jadi gambaran bagaimana Kitab Suci yang memuat Sabda Allah itu semestinya membungkus kebutuhan materialistik orang? Bukankah itu bisa jadi imaji bagaimana orang semestinya membuahkan santapan sehat nan lezat dengan bungkus Sabda Allah?

Entah mengapa gambaran itu muncul di kepala saya, jangan salahkan doa saya, tapi Roh yang menuntun kemunculan gambaran itu di benak saya. Barangkali juga karena pada bacaan pertama saya tersentuh oleh orang-orang lalim yang mengalami transformasi hidup, betapapun mungkin motifnya cuma berlandaskan ketakutan (tapi motif itu juga cuma prasangka saya; pada teks tidak ada indikasi itu, malah sebaliknya, bangsa yang diremehkan Yunus itu ternyata punya kepercayaan kepada Tuhan). Sabda Allah benar-benar mengubah hati orang dan Sabda Allah itulah yang didengarkan oleh Maria pada bacaan kedua. Itu pilihan terbaik yang bisa diambil orang beriman, yang bisa membungkus segala tetek bengek urusan bisnisnya.

Curcol ya: saya nunggak pe er lagi; dan mungkin Sabda Allah hari ini jadi opium bagi saya: mendengarkan-Nya itu memberi sensasi menenangkan, tapi sensasi itu tak menyelesaikan pe er saya, hahaha… Ya tidak apa-apa, sensasi menenangkan itu membantu saya untuk menyelesaikan pe er yang sudah ditunggak kok. Mau diponten berapa mah suka-suka dosennya aja dah! Namanya juga usaha…

Tuhan, kami mohon rahmat supaya mampu menjadikan Sabda-Mu sebagai bungkus jerih payah kami sehari-hari. Amin.


HARI SELASA BIASA XXVII A/1
10 Oktober 2017

Yun 3,1-10
Luk 10,38-42

Selasa Biasa XXVII C/2 2016: Capek Mencinta?
Selasa Biasa XXVII B/1 2015: Tertipu Agama
Selasa Biasa XXVII A/2 2014: Cinta Mengurai Benang Kusut

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s