Dasar Orang Bodoh

Kalau orang pintar nan matang dibilang bodoh, dia akan punya aneka jawaban yang justru menunjukkan kepintarannya. “Itu saya sudah tahu sejak dulu.” “Iya ya, kenapa saya bisa sebodoh ini?” “Iya, bodoh amat!” Sebaliknya, kalau orang bodoh dibilang bodoh, orang bodoh ini akan melaporkan orang yang menyebutnya bodoh, apalagi kalau masuk medsos, karena makin tersebarlah kebodohannya. Gak percaya? Lihat saja kasus orang-orang bodoh hari-hari ini, termasuk yang nunggak pe er ini, haaa curcol abis.

Bacaan-bacaan hari ini bisa menguak seperti apa orang bodoh itu. Pertama ialah sosok Yunus yang sangat sewot karena orang Niniwe bertobat. Lha wong orang lain bertobat kok malah sewot, apa gak bodoh namanya? Semestinya bersyukur dong kalau ada orang lain, penganut agama lain, orang yang berbeda, mengalami transformasi hidup yang semakin membawanya kepada Allah sendiri.
“Ya tapi enak banget muda foya-foya gitu tua masuk surga!”
Jadi elu iri, ato elu gak tulus ikhlas menghidupi agama elu? Dua-duanya ya sama sih: bodoh!

Lagi, sewaktu Yunus itu marah-marah karena pohon jarak yang mengering sehingga ia kepanasan, tak terlindung dari sengatan matahari, Tuhan menegurnya: lu kagak nanam pohon jarak, kagak merawatnya, dan sekarang marah-marah karena pohon itu layu. Nah, kepada pohon yang lu kagak punya jasa apa-apa aja lu bisa sayang begitu, mosok Tuhan tak bisa menyayangi orang yang bertobat? Dasar bodoh!

Selain itu, pada teks bacaan kedua ada rumusan doa populer di kalangan orang Kristen (Katolik): Bapa Kami. Saking populernya, kebanyakan orang bodoh mengira sudah mengerti maknanya. Contohnya saya. Baru belakangan ini saya sadar kebodohan saya. Ada bagian doa yang bunyinya begini: ampunilah kami akan dosa kami sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami. Sayang sekali, dalam teks Inggris bunyinya forgive us our sins; for we also forgive every one that is indebted to us dan dalam teks Latin berbunyi et dimitte nobis peccata nostra siquidem et ipsi dimittimus omni debenti nobis sementara dalam teks Yunani tertulis Καὶ ἄφες ἡμῖν τὰς ἁμαρτίας ἡμῶν, καὶ γὰρ αὐτοὶ ἀφίεμεν παντὶ ὀφείλοντι ἡμῖν.

Saya tidak tahu dari mana penerjemah mengganti kata ‘indebted’, ‘ὀφείλοντι’ (opheilonti), ‘debenti’ (debitore dalam bahasa Italia) dengan kata kesalahan. Terjemahan itu cenderung membuat saya berpikir,”Tuhan, aku kan sudah mengampuni kesalahan orang lain, mbok ya aku diampuni dosaku.” Kesalahan orang lain terhadap saya seakan-akan bisa dianalogikan dengan dosa saya terhadap Tuhan. Padahal, kalau terjemahannya lebih persis saja, maknanya jadi beda: ampunilah dosa kami seperti kami mengampuni orang yang berhutang kepada kami. Di sini, yang dianalogikan dengan dosa bukanlah kesalahan, melainkan hutang; dan ini segera mengingatkan pembaca Kitab Suci pada kisah ampun ya ampun.

Berhutang apakah manusia kepada Tuhan?
Ini pertanyaan yang jawabannya butuh pantang dan puasa sebulan (lebay). Nah…. cuma orang bodohlah yang menganggap dirinya pintar manakala yang bisa dibuatnya cuma bikin gaduh menjelang pilpres, hahaha..
. Semoga Bareskrim mengampuni saya.

Allah yang Maharahim [inhale], kasihanilah kami [exhale] orang yang banyak hutang pada-Mu.


RABU BIASA XXVII A/1
11 Oktober 2017

Yun 4,1-11
Luk 11,1-4

Rabu Biasa XXVII C/2 2016: Doa Nafas
Rabu Biasa XXVII A/2 2014: Don’t Forget the Poor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s