Ampun Ya Ampun

Pengampunan, dalam dunia orang beriman, tidak berkaitan dengan keadilan, tetapi dengan pengalaman eksistensial manusia yang terus menerus didukung oleh semesta. Ngapain sih mengampuni segala? Belum tentu juga yang kita ampuni itu menghentikan kebiasaan buruknya. Gak ada jaminan bahwa orang yang diampuni itu akan berbuat yang sama, mengampuni kesalahan orang lain. Persis itulah yang diceritakan dalam teks hari ini: Orang yang hutangnya begitu besar sampai tak terhitung lagi itu, tak bisa memberi tenggang waktu terhadap peminjam uang yang laksana mengambil sesendok teh air laut dari samudera. Padahal, ia sendiri dibebaskan dari hutangnya, bukan cuma diberi toleransi tenggat waktu pelunasan! Kelaliman orang yang hutangnya berabrek-abrek ini membuat murka pemberi hutang. Terlaluuuuu!!!!

Itulah mengapa orang mesti mengampuni tanpa batas: ia sendiri sudah dibebaskan dari hutangnya! Kalau ia tidak mengampuni, pembebasan hutangnya batal. Artinya, urusan dengan dirinya sendiri tidak beres.

Dari cerita itu jelas bahwa pembebasan hutang oleh Sang Tuan itu tidak membuatnya lupa akan hutang orang yang tak tahu diuntung itu; dan memang jelas-sejelas-jelasnya bahwa mengampuni sama sekali tidak identik dengan melupakan persoalan yang ada di dalamnya. Maka dari itu, Sang Tuan masih bisa membatalkan pembatalan hukumannya.

Kebanyakan dari pembaca blog ini bukanlah Sang Tuan itu, mungkin orang yang tak tahu diuntung itu, yang terus menerus sibuk dengan solidaritas dan keadilan manusiawi yang dipakai untuk menerjang pihak mana saja demi kepuasan batinnya sendiri [yang gak pernah puas]. Problemnya ialah bahwa pengalaman eksistensial yang dimiliki dalam hubungannya dengan Sang Tuan itu tak berimbas pada sikap dan cara bertindaknya.

Itu mengapa Sang Guru hari ini tidak mengafirmasi alur pikir Petrus yang sudah mengarah pada kesempurnaan. Angka tujuh sudah simbolik sebagai kesempurnaan dan ketika Petrus menyodorkan pertanyaan apakah kita perlu mengampuni sebanyak tujuh kali, gurunya cuma menjawab bukan. Lebih dari tujuh kali. Pengampunan itu tiada batas, sebagai nazar orang untuk merealisasikan kerahiman Allah. Ini adalah a way of life yang tak bisa diukur dengan kuantitas. Kemampuan mengampuni tidak muncul dari keyakinan bahwa diri ini lebih baik dari orang lain. Ini soal merealisasikan sifat Allah kepada manusia. Bener-bener sirius. Maka dari itu pantaslah kita prihatin pada wartawan yang mewawancarai anggota keluarga yang terkena tragedi, korban kejahatan, dengan menanyakan apakah anggota keluarga itu memaafkan atau mengampuni pelaku! Padhakmèn pengampunan itu soal yes-no question! Butuh waktu bahkan untuk mencerna tragedinya sendiri, Bang.

Pengampunan itu persoalan serius, yang tidak pertama-tama terkait dengan pihak yang menyakiti, tetapi pihak yang semestinya memberikan pengampunan itu. Semakin orang beriman mampu mengenakan way of life pengampunan itu, semakin sehatlah ia, semakin bahagialah ia, semakin susahlah sel-sel penyakit menyerang tubuhnya karena sudah happy dengan dukungan semesta ini, ngapain jal meributkan mereka yang penthalitan cari perhatian, cari perkara, mengumbar gelojoh kekuasaan, mendongkrak popularitas diri, dan seabrek ambisi ad maiorem diri guenya?

Ya Allah, mohon kepekaan batin bahwa penghapusan hutang kami pada-Mu jauh lebih berharga daripada agresi kami kepada orang-orang yang kuanggap melukai diri kami. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXIV A/1
17 September 2017

Sir 27,30-28,9
Rm 14,7-9
Mat 18,21-35

4 replies

      • Saya sudah membaca postingan Romo yang itu, buku forgiveness therapy juga sudah saya baca. Tetapi saya masih belum puas dengan yang diterangkan. Semoga dalam perjalanan hidup saya, saya dapat mengalami pengampunan yang memuaskan dahaga saya. Terima kasih Mo.

        Like

      • Kalau begitu, tinggal mohon rahmat kerendahan hati untuk ‘nyemplung’ (bukan berteori mengenai berenang) merealisasikannya, supaya hidup jadi merdeka. Salam.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s