Buah Agama

Dalam paragraf sebelum teks yang dibacakan hari ini digambarkan orang beriman palsu: buta, munafik, keras ke luar lunak tetapi lunak ke dalam, tak merasa butuh pengampunan. Pada teks yang dibacakan hari ini disodorkan problem serius orang beragama yang mengaku beriman: pohon jelek yang menghasilkan buah jelek. Haiya wong nyatanya sudah sekian milenium atau ratusan abad orang bikin agama jebulnya hidup manusia dari dulu ya gitu-gitu aja. Tak heran bahwa teman saya hendak membuat petisi supaya agama dibubarkan saja karena jadi biang kerok kekacauan dunia ini.

Saya sih sumonggo-sumonggo aja bikin petisi. Yang penting bukan petisinya, tapi kepada siapa petisi itu mau ditujukan. Kepada siapa lagi kalau bukan diri sendiri sih? Entah yang masih beragama ataupun yang skeptis terhadapnya.

Seharian ini saya mengikuti seminar nasional yang omong soal orang muda dalam mengarungi hidup sebagai bagian dari agama. Sempat muncul di situ cerita bahwa pemimpin-pemimpin umat mengalami kegalauan karena orang-orang mudanya seperti entah pergi ke mana. Ini tak hanya menerjang pemuka agama Katolik, tetapi juga pimpinan jemaat Kristen, Buddha, Islam, Hindu, dan sebagainya. Saya mudah saja menengarai dari mana kesulitan itu: dari paradigma lama yang hendak mempertahankan bentuk-bentuk tertentu dari cara beragama. Dibutuhkan paradigma baru yang melampaui keterkurungan orang beragama dalam tempurungnya sendiri: hidup antaragama. Tapi sudahlah, ini bukan forumnya untuk berpendapat dan mengajukan proposal penelitian.

Mungkin baik juga diperhatikan apa yang disampaikan dalam featured image dari posting ini: Morality is the fruit of religion; to desire the former without the latter is to desire an orange without an orange-tree. Itu tidak untuk diperdebatkan, tetapi untuk dicecap-cecap, disimak, ditimbang-timbang.

Mari kembali ke gambaran pohon jelek yang menghasilkan buah jelek tadi. Itu cuma gambaran. Pada kenyataannya memang tak ada kiranya pohon rusak yang menghasilkan buah sempurna. Berita baiknya, manusia bukanlah pohon. Kalau pohon yang terkena penyakit tak tersembuhkan tentu akan menghasilkan buah yang jelek, orang yang buruk, sakit, jahat, bisa saja menghasilkan buah yang baik: dengan pertobatan. Ini bukan soal kembali ke paradigma lama, melainkan soal membangun paradigma baru mengenai hidup. Di mana kebaruannya? Entahlah, silakan cari sendiri. Konon kita bisa berangkat dari kesadaran akan anugerah Allah: Karunia-Nya membuat impian terbaik manusia pudar kemerah-merahan lantaran sipu malu.

Ya Allah, mohon kepekaan batin supaya apa yang kami kejar dalam hidup ini ujung-ujungnya sungguh kemuliaan-Mu. Amin.


HARI SABTU BIASA XXIII A/1
Peringatan Wajib S. Kornelius dan Siprianus
16 September 2017

1Tim 1,15-17
Luk 6,43-49

Sabtu Biasa XXIII C/2 2016: Bebas Bertanggung Syahwat
Sabtu Biasa XXIII B/1 2015: Kung Fu Jungle
Sabtu Biasa XXIII A/2 2014: Deeper than Feeling and Action

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s