Bebas Bertanggung Syahwat

Ini catatan seorang anak SMA terhadap jargon yang didengarnya: kebebasan yang bertanggung jawab. Catatan ini muncul setelah ia mengobservasi bagaimana teman-temannya memakai ungkapan ‘bebas bertanggung jawab’ justru sebagai rasionalisasi terhadap gelojoh, nafsu, ketidakpedulian mereka terhadap sesama dan lingkungan.

Kita sudah akrab dengan ungkapan ‘bebas tapi bertanggung jawab’, tetapi saya tidak begitu sreg dengan kata sambung ‘tapi’ karena jadi seperti ada orang bisa bebas tanpa tanggung jawab. Kalau tak bertanggung jawab, apa bisa disebut bebas? Tanggung jawab itu adanya sudah sejak orang memutuskan pilihan, bukan setelah selesai melakukan tindakan. Kalau diletakkan di akhir, namanya bukan tanggung jawab, tapi tanggung syahwat!

Wueeeee’ e’ e’ e’ e’…. itu anak SMA kurang kerjaan rumah atau tak punya kegiatan ekskul ya kok sempat-sempatnya membuat catatan seperti itu? Semoga dia kelak jadi motivator ulung yang laris di tipi-tipi [tapi tidak jadi santapan lezat bisnis media, eaaaaaa]….

Hari ini teks Injil juga menyinggung soal kedalaman dan menurut saya, catatan anak tadi bisa menjadi perspektif untuk memahami kedalaman yang dimaksud Yesus. Tanpa kedalaman, buah yang tampaknya baik itu hanya penampakannya yang baik. Tanpa kedalaman, rumah takkan kokoh. Tanpa kedalaman, argumentasi tak lebih dari rasionalisasi dan kenyataan hidup orang bisa ditarik ulur bahkan juga dalam persidangan. Kedalaman yang ditunjuk anak tadi adalah kedalaman tanggung jawab yang diletakkan pada ranah discernment seseorang, bukan pada ranah aktualisasi tindakan dan konsekuensinya.

Ia hendak mengatakan, sekurang-kurangnya menurut penafsiran saya, bahwa orang diandaikan mempertanggungjawabkan pilihan-pilihannya dulu sebelum ia bertindak. Kalau tanggung jawabnya diletakkan di belakang, itu seperti mengikuti cara kerja syahwat, los, gada ruang kebebasan, pokoknya ikuti saja ketentuan syahwat: dari mata turun langsung ke anugak lewat hati. Orang yang bertanggung jawab itu hatinya masih berfungsi dan dalam hati itulah pantas ditancapkan pondasi, yaitu Sabda Allah.

Tuhan, semoga kami melengkapi tanggung jawab dengan Sabda-Mu dalam hati. Amin!


SABTU BIASA XXIII
10 September 2016

1Kor 10,14-22
Luk 6,43-49

Posting Sabtu Biasa XXIII B/1 Tahun 2015: Kung Fu Jungle
Posting Sabtu Biasa XXIII Tahun 2014: Deeper than Feeling and Action

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s