Kung Fu Jungle

Salah satu momen menarik dari film Kung Fu Jungle yang kami tonton tadi malam ialah saat kamera zoom in pada pergelangan tangan Hahou Mo (Donnie Yen). Pada momen itulah Hahou Mo ingat pesan Sinn Ying (Michelle Bai) saat bertarung melawan Fung Yu-Sau (Wang Baoqiang). Ini bukan hanya pertarungan fisik, melainkan juga pergumulan batin Hahou Mo. Fung Yu-Sau membawa ideologinya bahwa martial arts kung fu itu hakikatnya ialah membunuh atau dibunuh. Fung Yu-Sau tetap akan membunuh Hahou Mo bahkan meskipun Hahou Mo jelas tak mau membunuh Fung Yu-Sau. Pada momen kritis itulah pesan Sinn Ying terngiang: semoga tali ini mengendalikan kepalan tanganmu. Benarlah, kepalan tangan Hahou Mo terkendalikan dan ideologi destruktif Fung Yu-Sau tidak menggoyahkan keyakinan Hahou Mo. Ia tidak memakai kung funya untuk membunuh Fung Yu-Sau. Fung Yu-Sau terbunuh oleh peluru. Begitulah, tak perlu dibunuh, semua orang nantinya juga bakal mati sendiri…

Momen menarik itu bisa dipakai untuk memahami bacaan Injil hari ini, yang merupakan penutup wacana kotbah di bukit dalam Injil Lukas. Saya menyitir apa yang dikatakan Anthony de Mello: orang bodoh bertanya di manakah bulan dan kemudian berhenti menatap jari telunjuk orang yang menjawab pertanyaannya. Perikop ini diakhiri dengan kalimat “Barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.”

Sebetulnya untuk menafsirkan teks seperti ini orang tak harus ribet. Cukup setia pada teks saja. Pada ayat sebelumnya disodorkan situasi sebaliknya: yang mendengar dan melakukan perkataan-Nya itu seperti mendirikan rumah di atas fondasi kokoh. Mereka yang naif akan buru-buru mengambil nasihat moral bahwa sebaiknya orang membangun rumah di atas tanah dengan fondasi yang kuat. Lah, memangnya Injil ditulis cuma untuk kontraktor dan tukang bangunan?! Untuk mereka gak dibutuhkan nasihat Yesus: ngono wae mbahku ya ngerti.

Pesan Injil pastilah bukan soal membangun rumah, kecuali jika rumah dimaksudkan sebagai struktur hidup manusia sendiri. Hidup manusia bakal kokoh jika ia mendengarkan dan melaksanakan prinsip dasar, dan prinsip dasar itu dimengerti sebagai Sabda Allah sendiri. Tak mengherankan bahwa sebelumnya Yesus menyinggung soal buah yang tentulah sinkron dengan pohonnya. Memang Yesus tidak kenal teknik hibrida, okulasi, atau rekayasa genetik lainnya, tapi ah sudahlah… bukan itu poinnya. Dari pohon yang baik dihasilkan buah yang baik pula. Lha, proses dari pohon sampai buah inilah yang disinggung Yesus: prosesnya jos hanya jika Sabda Allah itu didengar dan dilaksanakan.

Hahou Mo mengingat pesan Sinn Ying di balik gelang tali tangannya, dan ia melaksanakannya. Apa yang membuat ia melaksanakan pesan itu? Cinta kepada Sinn Ying.
Realisasi Sabda Allah yang tersurat dan tersirat dalam Kitab Suci mengandaikan cinta kepada Allah. Tanpa cinta, pelaksanaan sabda merupakan kompulsi, kebiasaan, rutinitas, dan banal. Dengan itu, paling jauh orang jadi seperti kaum Farisi yang berkoar-koar ‘Tuhan Tuhan’ tapi dirinya jadi hantu mengerikan bagi orang lain.

Ya Tuhan, tambahkanlah cinta-Mu kepadaku. Amin.


HARI SABTU BIASA XXIII B/1
12 September 2015

1Tim 1,15-17
Luk 6,43-49

Posting Tahun Lalu: Deeper than Feeling and Action

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s