Mata Genit

Mata itu organ indra yang, lebih dari organ lainnya, memungkinkan orang kontak dengan lingkungan sekitarnya. Sebagai kiasan, fungsi mata ini juga merupakan ungkapan yang lebih komplet tentang kontak dengan Tuhan, sesama dan hal lain. Dalam arti tertentu, dengan organ dan fungsinya ditunjuk keseluruhan aspek seorang pribadi. Tak mengherankan bahwa dalam Kitab Suci, orang buta yang disembuhkan itu jadi semacam tipe orang yang hendak mengikuti Yesus dan juga tipe pertobatan, seperti ditunjukkan juga oleh pengalaman Saulus yang matanya terbutakan oleh cahaya terang sampai akhirnya ideologi untuk membantai pengikut Yesus lenyap dari kepalanya.

Bisa dimengerti baik-baik mengapa Yesus memakai metafora orang buta ini untuk menyadarkan pendengarnya tentang perlunya melepaskan balok inkonsistensi dalam diri sendiri sebelum mencoba melepaskan selumbar kerapuhan orang lain. Ini bukan soal bahwa orang mesti jadi sempurna dulu sebelum memberi masukan atau kritik kepada orang lain. Ini soal memberi kritik dengan mata hati yang jernih, yang terbebaskan dari jerat kepentingan ideologis tertentu. Mekanisme ini menjadi indikator ketulusan seseorang dalam menuntun orang lain. Bayangkan jika orang yang sedang emosi dimintai saran, tentu saran-sarannya akan sangat bias. Orang macam ini hanya akan mencuatkan apa yang disukai dan yang tidak disukainya; ia tak bisa secara jernih melihat apa yang kiranya dikehendaki Allah supaya direalisasikan baik oleh dirinya sendiri maupun sesamanya (entah yang disukai atau tidak disukainya).

Itu tidak mudah memang. Pada kenyataannya, siapa sih orang yang bisa memastikan secara mutlak bahwa ia melihat secara jernih seratus persen? Lensa kamera punya titik lemah yang sekarang ini bisa dikoreksi dengan aneka perangkat lunak. Lensa mata manusia, yang pada umumnya lebih superior daripada lensa kamera pun punya titik lemah. Begitu pula halnya dengan lensa mata batin manusia, butuh perangkat korektif: Sabda Allah sendiri. Sabda Allah yang mana, Mo? [Lha emangnya Sabda Allah itu ada berapa?]

Begini kata seorang yang nama keluarganya diabadikan sebagai merk anggur merah: ketika kuasa Allah dalam diri ini kita tolak atau abaikan, kita terombang-ambing dalam dua posisi, yaitu (1) moralistik dan (2) fatalistik atau juga relativistik. Matanya jadi genit karena kehilangan perspektif yang memungkinkannya melihat orang lain secara fair, yaitu compassion, belas kasih.

Gak usah dijelasin ya, ini kan bukan kuliah. Liat social experiment ini aja:

Tuhan, semoga kami memelihara Sabda-Mu sebagai perangkat koreksi terhadap cara pandang kami yang eksklusif dan diskriminatif. Amin.


JUMAT BIASA XXIII
9 September 2016

1Kor 9,16-19.22b-27
Luk 6,39-42

Posting Jumat Biasa XXIII B/1 Tahun 2015: Cling, Berubah
Posting Jumat Biasa XXIII Tahun 2014: Pemimpin Buta Rakyat Melek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s