Pemimpin Buta Rakyat Melek

Di NTT ada anggota DPRD yang punya tiga opsi untuk transportasi ke kantornya: naik angkot, ojek, dan jalan kaki. Salah satu media mengasosiasikan kesederhanaan anggota DPRD ini dengan gaya Jokowi. Di Facebook, posting mengenai Dolvi Kolo ini mendapat komentar begini:

Master of EngineeringPendek kata: lu sederhana karena emang lu miskin! Coba kalo lu kaya, bisa gak tetep sederhana? Seandainya komentator ini disodori fakta seorang pastor yang, sebenarnya ‘punya’ duit banyak entah dari kerjanya sendiri atau dari sumbangan, hidupnya sederhana, mungkin dia akan berkomentar: ya lu kan pastor, dah sewajarnya hidup sederhana! Jangan-jangan, terhadap Jokowi pun dia juga mengatakan: lu kan presiden, wajar aja mesti kasih contoh! Lalu, orang macam apa yang bakal dipujinya ya, wong semua dicarikan alasan kewajarannya?


Revolusi mental dimulai dari diri sendiri, dari dalam. Itu yang tersirat dalam bacaan Injil hari ini. Ungkapan “Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?” bisa dipadankan dengan peribahasa “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak”. Ungkapan ini ditujukan kepada mereka yang begitu kritis terhadap orang lain, tetapi tak punya sikap otokritik. Celakanya, orang yang mendapat kritik (yang juga kurang rendah hati) bisa memakai ungkapan itu untuk membuat kebal diri: urus aja rumah tangga lu sendiri, gak usah ngurusi rumah tangga orang! Kiranya bacaan hari ini tidak mengajak orang untuk kebal kritik.

Jika orang harus menunggu dirinya benar-benar bersih untuk menyampaikan kritik, mungkin takkan pernah ada kritik yang disampaikannya!

Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu. Orang perlu melakukan otokritik, mawas diri, bukan pertama-tama supaya dirinya bersih, melainkan supaya secara rendah hati memiliki empati terhadap orang yang dikritik, dan karena itu justru bisa lebih mudah membantunya. Jika tidak, itu seperti orang buta menuntun orang buta. Lebih parah lagi, saat ini ada situasi-situasi yang menunjukkan orang buta menuntun orang-orang yang sudah mulai melek: kita sudah terlalu muak dengan anggaran pemerintah yang mengada-ada, jijik dengan oknum yang memakai birokrasi untuk mengeruk keuntungan pribadi, ketua dewan yang masih saja sibuk mencari celah untuk menjegal ketulusan pemimpin rakyat….


JUMAT BIASA XXIII
Peringatan Nama SP Maria tersuci
12 September 2014

1Kor 9,16-19.22b-27
Luk 6,39-42

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s