Muter-muter Doang

Heran gak kalau pada pesta ultah seorang mahmud, malah disodorkan kisah suami dan anaknya? Gak heran ya? Iya ini cuma perasaan saya aja sih: katanya pesta kelahiran Santa Perawan Maria, lha kok malah bacaannya soal nubuat kelahiran Yesus dan kisah kegalauan Yusuf? Bacaan pertama cuma menyebutkan “sampai waktu perempuan [maksudnya si Maria ini] yang akan melahirkan itu sudah melahirkan…” dan bacaan kedua malah menyebutkan “Maria yang melahirkan Yesus…” Jadi, intinya ini kisah kelahiran Maria atau kelahiran Yesus sih? Kalau intinya kelahiran Maria kok gada kisah kelahirannya? Kalau ini kelahiran Yesus kok dipakai untuk pesta kelahiran Maria? 

Mboh ya, tapi mungkin ada baiknya juga sekali-sekali memperhatikan kisah yang kurang populer: kabar malaikat kepada Yusuf. Kabar malaikat kepada Maria kan sudah lebih umum dimengerti, tetapi baik jugalah ditilik kabar malaikat kepada Yusuf. Meskipun demikian, baik kabar malaikat kepada Maria maupun kabar malaikat kepada Yusuf ya bicara soal yang sama sih: ketaatan kepada kehendak Allah yang disampaikan melalui malaikat-Nya. Ketaatan Maria kepada kehendak Allah tidak begitu kelihatan sebagai revisi terhadap rencana hidupnya. Ia cuma perlu menjawab iya atau tidak.

Ketaatan Yusuf dikisahkan sebagai pergumulannya dengan rencana pribadi yang juga sebetulnya dia maksudkan demi kebaikan Maria. Ia punya planning yang menurut pikirannya fair: ia percaya bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus dan justru karena itu bisa jadi ia tak merasa pantas diri mengklaim anak dalam kandungan Maria. Yusuf, lelaki tulus dan penuh hormat kepada Allah: bagaimana mungkin ia jadi ortu anak yang dikandung dari Roh Kudus? Bukan kita, manusia, yang melahirkan Tuhan. Bukan kita, manusia, yang menciptakan Tuhan seturut gambaran, citra kita. Bukan kita, manusia, yang menuturkan kebenaran dan keadilan di bumi ini: itu turun dari ‘atas’ [lha iyalah namanya juga turun].

Karenanya, pengakuan hidup sebagai anugerah biasanya menjadi titik awal kebaruan hidup, kelahiran baru. Tanpa pengakuan itu, tanpa syukur atas anugerah itu (yang jadi bantal empuk untuk ateisme), orang masuk dalam lingkaran kesuksesannya: muter-muter di situ aja, seperti di roda yang berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Ranah manusia yang haus kekuasaan baru akan berhenti pada titik dia mulai menerima kehendak ilahi. Di situ juga dia jadi hamba dari pribadi yang jauh lebih besar darinya, yaitu Allah sendiri, dan falsafah roda kehidupan hanyalah angin lalu yang tak menggoyahkan relasi cintanya dengan Allah dan kehidupan.

Bunda Maria, semoga teladanmu dan teladan Santo Yusuf, suamimu yang setia, senantiasa jadi inspirasi untuk menyediakan diri sebagai medan cinta Allah. Amin.


PESTA KELAHIRAN SANTA PERAWAN MARIA
(Kamis Biasa XXIII C/2)
8 September 2016

Mi 5,1-4
Mat 1,1-16.18-23

Posting Tahun Lalu: Buon Compleanno, Maria
Posting Tahun 2014: The Art of Seeing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s