Buon Compleanno, Maria

Gereja Katolik hari ini merayakan pesta ulang tahun Bunda Maria. Landasannya? Cuma tradisi yang hidup pada abad pertama. Tak ada bagian dari Kitab Suci yang mengisahkan kelahirannya, sebagaimana kisah kelahiran Yesus. Teks Injil yang dipakai pada pesta kelahiran Maria ini hanya menyodorkan silsilah. Apa menariknya sih silsilah pada teks Matius ini?

Konon, biasanya yang dicantumkan dalam daftar silsilah adalah nama-nama pria saja. Maka cukup mengherankan bahwa Matius menempatkan lima wanita dalam silsilah Yesus: Tamar, Rahab, Rut, istri Uria dan Maria. Mengapa ia memilih lima perempuan, dan bukan orang lain? Lha itu, kenapa ya?

Pada awal dan akhir silsilah, Matius menjelaskan identitas Yesus: ia adalah Mesias, anak Daud dan anak Abraham. Sebagai keturunan Daud, Yesus adalah jawaban Tuhan atas harapan orang-orang Yahudi (2 Sam 7,12-16). Sebagai keturunan Abraham, ia jadi sumber berkat dan harapan bagi semua bangsa (Kej 12 & 13). Jadi, baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi bisa melihat harapan mereka terpenuhi dalam diri Yesus. Dalam membuat silsilah, Matius juga terpengaruh oleh utak-atik angka. Empat belas itu dua (jumlah dewa?) kali tujuh, yang adalah angka kesempurnaan. Pada masa itu, lumrah halnya menafsirkan tindakan Allah dengan menggunakan nomor dan tanggal. Melalui perhitungan simbolik, Matius mengungkapkan kehadiran Allah pada setiap generasi dan percaya bahwa Yesus muncul pada waktu yang ditunjuk Allah.

Dalam kisah empat perempuan Perjanjian Lama, ada sesuatu yang abnormal. Keempat perempuan sebelum Maria punya kisah yang tidak memenuhi persyaratan hukum kemurnian pada zaman Yesus. Tamar, seorang Kanaan, janda, menjadi pelacur untuk mengkondisikan supaya Yehuda setia dan memberi anak (Kejadian 38,1-30). Rahab, pelacur Kanaan Yerikho, membantu orang-orang Israel untuk memasuki Tanah Perjanjian (Yos 2,1-21). Betsyeba, orang Het, istri Uria, terlibat skandal dengan Raja Daud, yang memerintahkan untuk membunuh suaminya (2 Sam 11,1-27). Ruth, seorang Moab, janda miskin, memilih untuk tinggal dengan Naomi dan bergabung dengan umat Allah (Rut 1,16-18). Hidupnya mungkin mirip dengan Tamar. Keempat wanita itu hidup dalam masyarakat patriarki dan inisiatif mereka yang agak nyeleneh malah memungkinkan silsilah berlangsung sampai kepada Yesus.

Njuk Maria? Apa dia juga nyeleneh? Sepertinya sih iya, tetapi bukan karena melacurkan diri. Ini terkait dengan sikap dan tindakan yang dibuat Yusuf, tunangannya. Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga (Mat 5,20 ITB). Jika Yusuf bertindak hanya seturut keadilan orang-orang Farisi, ia mestinya menuntut Maria dan Maria akan dirajam dan Yesus dalam kandungannya juga akan mati.

Memang dalam Kitab Suci dikatakan Yusuf dan Maria mendapat kabar dari malaikat, juga lewat mimpi. Akan tetapi, sangat masuk akal bahwa Maria dan Yusuf terlibat dalam diskusi serius mengenai kondisi Maria yang hamil. Apa yang terjadi dalam diskusi itu, God knows, tetapi pasti Maria mengungkapkan kebijaksanaannya sendiri yang sudah dihidupi sebelum ia bertunangan dengan Yusuf.

Bunda Maria, semoga panjang umur: sebagai model untuk menangkap kehendak Allah dalam kenyataan hidup yang tampak absurd ini, engkau tetap hidup sepanjang umurku. Amin.


PESTA KELAHIRAN SANTA PERAWAN MARIA
(Selasa Biasa XXIII B/1)
8 September 2015

Mi 5,1-4a
Mat 1,1-16.18-23

Posting Tahun Lalu: The Art of Seeing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s