#Kemanusiaan yang Terdampar

Meskipun sudah ada lembaga legislatif, masing-masing orang sebetulnya juga membuat undang-undangnya sendiri, untuk dirinya sendiri (kadang dipaksakannya untuk orang lain juga). Proses pembuatannya dilakukan sejak ia masih bayi, mungkin malah sejak dalam kandungan. Ia dibantu menyusun undang-undangnya itu oleh orang tua, tetangga, teman, entah yang suka maupun yang tidak suka dengannya. Hasilnya adalah pola aksi-reaksinya, pola pertahanan dirinya, cara melihat masalah, dan sebagainya.

Dalam teks Injil hari ini dikisahkan Yesus menyembuhkan orang yang tangan kanannya mati. Itu terjadi pada hari Sabat dan memang cuplikan teks hari ini merupakan penyembuhan yang dibuat Yesus selagi ia berwacana dengan para sesepuh Yahudi mengenai pekerjaan pada hari Sabat. Sikap ahli-ahli Yahudi jelas: hukum harus ditegakkan, tak perlu interpretasi macam-macam wong perintahnya jelas. Pesan Yesus juga jelas seperti tertera pada ayat terakhir dalam teks yang dicuplik kemarin lusa: hukum mengabdi manusia (yang adalah abdi Allah). Jika hukum mengabdi manusia, tentu praktiknya mutlak perlu dievaluasi, dimodifikasi, disesuaikan supaya tidak membalik arah pengabdian.

Penyembuhan itu sendiri sangat simbolik dan representatif terhadap gagasan Yesus: yang disodorkan Lukas ialah orang yang lumpuh tangan kanannya. Dalam tulisan seperti itu, kata ‘kanan’ tentu tidak sembarang disisipkan. Ada makna khusus mengenai tangan kanan, seperti dikenal juga dalam kultur lain: ini adalah tangan yang umumnya dikatakan ‘baik’, tidak dipakai untuk membersihkan pantat setelah buang hajat. Ini adalah tangan untuk mengerjakan hal-hal yang baik (padahal membersihkan pantat juga baik ya?). Apa tolok ukurnya pekerjaan disebut baik? Tentu saja yang orientasinya adalah mengabdi, memuliakan Allah sebagaimana Sabat dimaksudkan supaya orang berhenti dari aneka bisnis (yang mungkin culas) dan meluangkan ruang dan waktu untuk memuji Allah. Maka jadi absurd kalau hukum Sabat dikenakan juga pada tindakan kebaikan yang sebetulnya malah disasar oleh hukum Sabat sendiri! Lagi-lagi ini soal legalisme, formalisme; membosankan dan menjijikkan. Legalisme mendamparkan kemanusiaan.

Legalisme tidak menunjuk pada hukum yang diproduksi manusia, tetapi pada sikap orang terhadap produk hukum itu. Tanpa sikap tobat, produk hukum itu tak pernah terkoreksi dan manusia yang terdampar itu pun akan tetap terkapar.

Tuhan, jauhkanlah aku dari penghayatan hukum yang menghempaskan kemanusiaan khususnya kaum lemah dan miskin, anak-anak yang tanpa support. Amin.


HARI SENIN BIASA XXIII B/1
7 September 2015

Kol 1,24-2,3
Luk 6,6-11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s