Mari Belajar Omong

Semakin akrab dengan Kitab Suci (Kristen), semakin mengertilah orang bahwa tulisan di dalamnya tak bisa dipakai sebagai patokan sumber sejarah. Maka tersesatlah orang yang hendak mencoba membuktikan apa-apa saja yang tertera dalam Kitab Suci: soal di mana persisnya Firdauslah, soal di mana kapal Nabi Nuh kek, soal makam Yesuslah… Kitab Suci tidak ditulis sebagai laporan fakta, tetapi sebagai pandangan umat beriman terhadap aneka misteri hidup manusia di hadapan Allahnya. Maka, tolok ukur benar tidaknya Kitab Suci tak pernah disandarkan pada kajian geografis-antropologis-historis melulu. Kitab Suci dibenarkan sejauh mengantar orang pada kebenaran iman, pada relasi intimnya dengan Allah.

Dengan alasan itu, kita tak pernah tahu apakah Yesus dan murid-muridnya itu benar-benar pergi dari Tirus ke Danau Galilea melalui Sidon. Itu seperti orang dari Jogja mau jalan kaki ke daerah waduk Gajah Mungkur di Wonogiri melalui Salatiga. Kalau menilik ‘kegilaan’nya sih, mungkin saja. Akan tetapi, persoalannya bukan apakah memang fakta itu terjadi, melainkan mengapa penulis Kitab Suci menuturkan ‘kisah aneh’ seperti itu. Ooo…[mulai ngelantur] jadi Kitab Suci itu seperti cerita fiksi begitu ya? Ya cuma seperti cerita fiksi, tetapi tak murni fiktif, ada kesesuaian isinya dengan peristiwa sejarah juga. Kalau begitu, fiksi sejarah gitu ya? Yo wis sak karepmu, yang penting tolok ukurnya tadi: sejauh mana teks itu membantu orang mengenali kebenaran ilahi.

Perjalanan Yesus yang melewati daerah Tirus dan Sidon itu memberi informasi kepada kita bahwa Yesus berjalan melintasi wilayah orang-orang yang kepercayaannya bukan pada Allah yang esa; dan di tengah perjalanan ke daerah Galilea, ia disodori orang tuli yang bicaranya gagap. Orang tulinya itu ya mungkin tak merasa bermasalah dengan ketulian dan kegagapannya, tetapi orang-orang di sekelilingnyalah yang terganggu dan memohon supaya Yesus menyembuhkannya. Menarik, dalam upaya penyembuhannya, Yesus menyendirikan orang tuli itu dari kerumunan orang-orang banyak. Maklum, suara orang banyak itu bisa malah jadi hambatan bagi yang bersangkutan.

Orang perlu berhadapan secara pribadi dengan Yesus, si penyembuhnya. Dengan menengadah ke langit, Yesus meminta telinga orang itu untuk terbuka. Setelah sembuh, Yesus melarang orang banyak untuk omong soal penyembuhan ini. Alasannya ialah justru apa yang baru saja dilakukannya: membetulkan orang yang omongnya gak bener itu.

Banyak orang omongnya gak bener. Kalau omongnya gak bener, yang ditangkap orang juga gak bener. Yesus ingin menegaskan bagaimana realisasi kehendak Allah itu membebaskan orang (bacaan pertama), tetapi yang diomongkan banyak orang saat itu ialah bahwa Yesus ini dukun penyembuh. Orang tak sampai pada refleksi bagaimana relasi Yesus dengan Allah yang disebutnya Bapa. Alhasil, mereka juga tak pernah mengerti aneka atribut dari Perjanjian Lama yang diletakkan kepadanya (Mesias, Anak Manusia, dll).

Ada propaganda gerakan kerohanian tertentu yang meyakinkan orang bahwa gerakan ini tak memandang agama. Orang tetap bisa memeluk agamanya masing-masing karena gerakan spiritual itu ‘hanya’ menyediakan kendaraan, jalan, metode supaya ia bisa menjalankan amanah agamanya secara lebih baik. Barangkali seperti itu jugalah yang diupayakan Yesus sehingga pada satu kesempatan ia berkata bahwa dialah jalan, kebenaran, dan hidup. Ia tak pernah membuat propaganda supaya orang banyak mengikutinya, memilih agama A B C D E. Ia menginginkan semua saja supaya mengalami kebebasan sebagai anak-anak Allah. Tolok ukurnya: tidak selektif atas dasar kesukaan, kekayaan, popularitas, melainkan punya preferensi kepada kaum lemah seperti ditulis pada bacaan kedua.

Tuhan, bantulah aku supaya semakin dapat mengalami dan mewartakan kasih-Mu yang membebaskan semakin banyak orang. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXIII B/1
6 September 2015

Yes 35,4-7a
Yak 2,1-5
Mrk 7,31-37

Minggu Biasa XXIII A: Tsunami Warning

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s