Kebugaran Rohani

Sejak kemarin sore komunitas tempat saya tinggal mengadakan suatu rekoleksi dengan tema kebugaran rohani. Wah, apa pula ini? Kebugaran kan biasanya ditempelkan pada aktivitas jasmani toh? Betul, tapi sama kawan, kasihlah kesempatan rohani untuk bugar…

Mens sana in corpore sano adalah penggalan kalimat penyair Juvenal yang kerap kali disitir untuk promosi olah raga, seolah-olah semakin sehat dan bugar fisik seseorang, semakin sehat juga mentalnya. Itu masih bisa diperdebatkan dan posisi saya jelas: jiwa dan badan itu punya relasi dua arah, sehingga tak bisa dipastikan bahwa semakin sehat dan bugar tubuh seseorang, semakin sehat dan bugar pula mentalnya. Juvenal menyarankan orang ‘berdoa’ supaya jiwa dalam raga mereka sehat. Itulah kebugaran rohani.

Dalam bacaan Injil hari ini ada gambaran kebugaran rohani yang dirongrong oleh jiwa yang rada-rada sakit. Katanya Allah mencipta semesta dalam kurun waktu enam hari dan pada hari ketujuh Allah beristirahat. Maka dari itu, dikenal hukum sabat untuk menghormati Allah dan pada hari itu orang mesti berhenti bekerja supaya dapat membaktikan hidupnya bagi Allah. Konkretnya, seperti banyak dibuat orang zaman ini, Senin-Jumat bekerja, Sabtu-Minggu istirahat dan beribadat.

Lha, problemnya dengan jiwa yang rada-rada sakit itu tadi ialah bahwa ‘berhenti bekerja’ dijadikan sebagai tujuan pokok. Ia lupa bahwa ‘berhenti bekerja’ itu hanyalah kondisi, sarana supaya orang bisa beristirahat dan beribadat. Jadi, istirahat dan ibadat tentu lebih perlu diburu daripada aturan mengenai ‘berhenti bekerja’ (yang lalu bakal sibuk dengan definisi ‘berhenti’ dan ‘bekerja’). Begitu juga halnya mengenai istirahat dan beribadat, perlu dipahami sebagai sarana. Sarana apa? Ya sumonggo pilih sendiri! Kalau ibadat itu mau dijadikan sarana untuk tebar pesona, misalnya, mari pikirkan kembali: apa tidak ada sarana yang lebih baik lagi daripada ibadat? Kalau ada sarana yang lebih baik, ya mendingan ambil sarana lain yang lebih baik daripada ibadat dong!

Jika ibadat diterima sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan pada hari Minggu, misalnya, tentu saja yang perlu ‘diburu’ ialah pendekatan-diri-kepada-Tuhan-nya, bukan aturan ibadatnya! Ha, Romo ini ngajarin anarkis lagi ya?!
Bukan, saya cuma bilang, hendaklah fokus kita senantiasa diletakkan pada tujuan yang lebih besar, bukan pada yang spontan-spontan menyenangkan kita belaka. Kalau kita mau berdoa dan pikiran sibuk dengan prodiakon yang gincunya norak, njuk bagaimana mau berdoanya? Kalau kita mau bernyanyi memuji Tuhan, tapi terus mengeluh karena organisnya berpakaian semriwing, njuk mana pujiannya? Kalau kita terus sibuk dengan pertanyaan “Boleh nggak?” untuk suatu relasi dengan Tuhan, kapan terbangunnya itu relasi? Yang terbangun malah tembok.

Kebugaran rohani terbangun oleh otokritik atau mawas diri: kapan orang ada di ambang legalisme dan formalisme. Sebagaimana Allah tak bisa diformalin, orang pun tak bisa memutlakkan aturan yang dibuatnya sendiri. Ia mesti senantiasa mengkaji hidupnya apakah rohaninya bugar. Tolok ukurnya sederhana: manajemen waktu yang sehat antara doa dan kerja lainnya. Kalau seorang pelajar dalam seminggu pergi ke sekolah selama 42 jam, tidur 56 jam, doa (termasuk waktu ibadat) 2 jam, belajar 6 jam, main 62 jam, tentu ia lebih tepat disebut sebagai pemain. Jika seorang mahasiswa dalam seminggu mengikuti perkuliahan 35 jam, tidur 49 jam, doa 2 jam, belajar 14 jam, nonton aneka tontonan 68 jam, kiranya bukan mahasiswa, melainkan tokoh mahabharata.

Ya Allah, semoga aku semakin mengerti tujuan untuk apa aku Engkau ciptakan dan berani mengejar tujuan itu. Amin.


HARI SABTU BIASA XXII B/1
5 September 2015

Kol 1,21-23
Luk 6,1-5

Posting Tahun Lalu: Awas Jangan Salah Tekan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s