Awas, Jangan Salah Tekan!

Sepintas, video ini seperti lelucon, tetapi konon, pengendara motor itu mati setelah terperosok ke lubang besar karena rem tidak berfungsi. Tapi, jangan kira penyebab kecelakaan seperti itu semata adalah cacat produksi. Ada saja pengendara mobil yang meskipun sudah piawai, toh dalam situasi tertentu keliru dalam menginjak pedal dan berakibat fatal: harusnya menekan pedal rem, tetapi malah menekan pedal gas. 


Sudah mainstream bahwa bacaan Injil hari ini dipakai orang untuk ‘memegahkan diri’ bahwa manusia adalah tuan atas hukum: hukum dibuat untuk manusia, bukan manusia ada untuk hukum. Orang lupa bahwa ‘anak manusia’ dalam Injil itu mengacu pada Kristus. Baru kalau ia klop dengan nilai-nilai Kristus, ia bisa mengklaim diri sebagai tuan atas hukum. Kenyataannya, orang yang menggembar-gemborkan ayat Injil itu barangkali cuma salah satu ekstremis dari kelompok yang tak suka aturan atau malas.

Ketidaksukaan orang kepada aturan bisa dibenarkan jika aturan itu diperlakukan secara legalistik belaka. Mentang-mentang punya jabatan, orang mau menyeragamkan gerak liturgis di seluruh dunia, misalnya. Pikiran orang seperti ini menjadi sasaran teguran Paulus dalam bacaan pertama: jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain. Paulus menegaskan bahwa sehebat-hebatnya mereka, mereka semua adalah abdi Kristus. Kristuslah tolok ukur utamanya, bukan aneka capaian atau buatan abdi-Nya.

Dengan tolok ukur Kristus itu, pokok perhatian bukan lagi pada senang tidaknya orang terhadap hukum (namanya buatan manusia mah pasti ada yang menyenangkan dan tidak menyenangkan). Dengan tolok ukur Kristus orang bisa memperhatikan tekanan apa yang diberikan terhadap pelaksanaan hukum atau aturan. Jika orang menekankan keseragaman sepanjang waktu, ia bisa jatuh pada legalisme atau formalisme. Apa-apa saja diukur dengan aturan atau formalitas, tak peduli latar belakang atau situasi mereka yang bersangkutan. Jika orang menekankan kebebasan masing-masing individu, ia bisa jatuh pada sikap anarkisme yang ungkapan nilai-nilai Kristusnya tak jelas, mengawang-awang, waton suloyo (alias semau gue), pokoknya asal gak gini dan gak gitu. Bisa jadi idealis, gak konkret.

Lha memang susahnya ya itu: menekan secara tepat supaya tak jatuh ke dua ekstrem, keseragaman dan anarkisme!

Ya Allah, berilah kami rahmat kebijaksanaan-Mu supaya kami tak buta pada cinta kasih-Mu. Amin.


SABTU BIASA XXII
6 September 2014

1Kor 4,6b-15
Luk 6,1-5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s