Latihan Doa 46: Memasuki Yerusalem

1. Persiapan Doa (5-15 menit)

Memilih (baca semua secara sepintas lalu memilih salah satu yang dianggap menyentuh hati), menyiapkan bahan doa:
Mat 21,1-17 / Luk 19,28-48 / Mrk 11,1-19 (Masuk ke Yerusalem)
Mrk 14,1-9 (Pengurapan di Betania)
Yoh 12,20-26 (Tibanya waktu Yesus)
Mzm 147 (Tuhan membangun Yerusalem kembali)
Mencari tempat doa yang kondusif, menonaktifkan apa saja yang bisa mendistraksi kegiatan doa.
Mengambil posisi yang paling kondusif untuk berdoa (duduk tegak, bersila, telungkup… tapi mungkin posisi ini nantinya membantu orang untuk tidur)

Doa persiapan:

Tuhan Yesus, aku mohon rahmat pengetahuan batin yang mendalam akan pribadi-Mu, nilai-nilai injili-Mu dan khususnya cara-Mu mencinta supaya aku semakin jatuh cinta pada-Mu, mengikuti-Mu dan mencinta sebagaimana Engkau mencinta.

2. Doanya sendiri (20-60 menit)

Jerusalem

  • Kontemplasikanlah peristiwa Yesus masuk ke Yerusalem dan/atau pembersihan Bait Allah.
    Imajinasikanlah kota suci itu dan masuk dalam suasana doa, dalam adegan-adegan Injil, dengan mempertimbangkan tempat dan orang-orang di sana.
    Apakah yang kulihat? Apa saja yang kudengar? Kucium? Kusentuh? Mungkin juga kucecapi?
    Luangkan waktu untuk masuk dalam detil kisah transfigurasi dan perlahan-lahan, pada akhirnya, memfokuskan perhatian pada-Nya dan menatap penuh kasih wajah-Nya.
  • Kualitas dan nilai apakah yang menyentuhku saat aku bersama Yesus yang masuk ke Yerusalem (dan/atau saat ia menyucikan Bait Allah)?
  • Setelah mengklarifikasi kualitas-kualitas dan nilai-nilai Tuhan (misalnya kelembutan hati, lepas bebas, kehendak kuat, hormat pada yang disucikan), ambillah waktu untuk memohon kualitas dan nilai serupa bagi diriku.
  • Biarkanlah diriku mengalami banyak kesenangan dan perhatian akan Tuhan saat mengkontemplasikan Tuhan masuk ke dalam kota suci Yerusalem untuk menderita, wafat dan dibangkitkan — Anak Manusia yang adalah “Raja para raja”, tetapi dengan rendah hati menunggang keledai dan begitu lepas bebas terhadap seluruh kemuliaan diri.
  • Kota Yerusalem bermakna ganda bagi orang Kristen. Di sana Yesus mengajar, menyembuhkan orang sakit, berdoa, beribadat bahkan juga dipuja-puji. Akan tetapi, di sana juga ia menderita, ditolak dan dibunuh. Karena itu, Yerusalem dianggap baik sebagai kota desolasi dan konsolasi, sebuah kota keputusasaan dan harapan, sebuah kota kematian dan kehidupan.
    Pengalaman apa yang kurasakan sebagai “Yerusalem”-ku (pengalaman signifikan yang membimbingku pada penderitaan dan penghiburan, kesakitan dan ekstasi, yang pada akhirnya menuntunku semakin dekat pada Tuhan)?
    Kembalilah ke pengalaman-pengalaman itu dan menghidupinya dalam suasana doa.

Melakukan wawancara batin

Mengimajinasikan Kristus yang bergantung di salib atau Bunda Maria dan mendialogkan pokok pengalaman “Yerusalem” tersebut.
Berterimakasihlah kepada-Nya atas pengalaman “Yerusalem” dalam hidup.
Mohon berkat Allah dan akhiri dengan rasa syukur yang tulus atas sentuhan Allah dan rahmat penghiburan, dengan doa Bapa Kami atau Jiwa Kristus atau Salam Maria.

3. Refleksi (5-15 menit)

Mencatat poin-poin penting dalam proses doa:
(1) perasaan-perasaan sebelum doa, pada saat doa, dan setelah selesai doa
(2) insight yang diperoleh dari doa tadi (baik yang bersifat informatif intelektual maupun spiritual)
(3) niat atau dorongan-dorongan yang muncul setelah doa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s