Iman Sadis

Konon ada sepasang laki-laki dan perempuan yang punya kecenderungan sadomasokis. Yang satu sadis, yang lainnya masokis. Yang sadis, kita tahu, mendapatkan kesenangannya dengan menyiksa orang lain; sedangkan yang masokis, kita juga tahu, menikmati siksaan sebagai sesuatu yang menyenangkan. Jadi, mereka adalah pasangan serasi. Yang satu senang menyiksa, yang lain senang disiksa.
Nah, sekarang, bagaimana si sadis mengungkapkan kesadisannya ketika si masokis minta disiksa?
Jawabnya ialah,”Ogah!”

*****

Sudah jamak diketahui bahwa kegiatan puasa orang identik dengan larangan makan dan minum dalam jangka waktu tertentu. Di kalangan orang Yahudi, praktik itu juga jamak sehingga yang tidak berpuasa malah dipertanyakan. Maka dari itu, wajarlah bahwa orang-orang Farisi mempertanyakan mengapa murid-murid Yesus tidak berpuasa seperti mereka dan juga murid-murid Yohanes.

Jawaban Yesus memberi perspektif baru mengenai puasa: melemparkan aneka topeng kemunafikan kepada cinta Allah. Kemunafikan itu bisa berwujud kalung, ibadat, puasa, aturan, rumusan, histeria atas nama Tuhan dan sebagainya. Semuanya bisa tampak sebagai penghormatan kepada Allah, tetapi sejatinya ampang. Banyak bahkan orang Kristen yang mengaku diri pengikut Kristus, tetapi tak sanggup mempraktikkan ajaran satyagraha Mahatma Gandhi, misalnya. Mungkin banyak orang Katolik yang mengira bahwa iman identik dengan sesuatu yang wajib, berfaedah, perlu, tetapi praktiknya begitu serius dan membosankan! Kenapa? Karena terpaku pada rumusan dan aturan belaka. Ini bukan ajakan untuk anarkis lho ya!

Kembali ke sadomasokisme. Rumusannya jelas: sadis penyiksa, masokis tersiksa. Akan tetapi, itu adalah rumusan atau aturan. Jauh di kedalaman sana, siksaan terjadi justru ketika orang tidak munafik, melihat rumusan secara baru. Sebagai orang sadis memang ia mestinya menyiksa. Sekarang, ia melihat sadis atau penyiksaan secara berbeda: bukan dengan menyiksa si masokis (karena dengan itu dia dan si masokis malah mendapat kesenangannya), melainkan justru dengan menolak untuk menyiksa si masokis. Nah lu, dua-duanya tersiksa, bukan? Ha ini lebih sadis!

Romo itu omong apaan sih?
Saya juga gak tau omong apa. Kegembiraan Kristen (yang tidak identik dengan kegembiraan orang-orang yang beragama Kristen atau Katolik!) ialah derita yang teratasi (bukan terhindarkan atau terhilangkan). Kegembiraan Kristen ialah penemuan wajah Allah sebagai mempelai dan karena itu, puasa dibuat justru saat mempelai itu direnggut darinya: saat manusia (wajah Kristus) direndahkan, menjadi korban kekerasan. Puasa dibuat pengikut orang gila dari Nazaret ketika dunia memerlukan penataan hati untuk memulihkan wajah ceria Allah. Ini bukan semata-mata soal tidak makan-minum. Lebih ‘sadis’ dari itu.

Ya Tuhan, semoga aku sanggup menampakkan wajah ceria-Mu dalam pendamaian dunia dengan diri-Mu. Amin.


HARI JUMAT BIASA XXII B/1
4 September 2015

Kol 1,15-20
Luk 5,33-39

Posting Tahun Lalu: Tobat Tulus vs Akal Bulus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s