Hidup Seolah-olah

Kalau hidup ini seluruhnya adalah rangkaian eksperimen sosial, barangkali Si Pemandu Hidup beserta staf di tempat-Nya sana setiap saat cekikak-cekikik melihat tingkah laku orang-orang di dunia ini: omongnya ber-Tuhan, tapi kok ya hidup mereka sikut-sikutan, colong-colongan, bunuh-bunuhan, dan sebagainya. Bilangnya beragama, tapi kok ya tindak-tanduk mereka malah menunjukkan keyakinan seolah-olah gak ada dunia yang lain daripada dunia ini.

Kata ‘seolah-olah’ yang disodorkan Paulus dalam bacaan pertama hari ini mengganggu saya hari ini. Tepatnya, saya terganggu karena ‘hidup seolah-olah’ yang saya jumpai dalam hidup sehari-hari. Ada sebagian orang tajir yang datang dengan naik becak dan merengek-rengek kepada sekolah supaya uang gedungnya tak sampai angka 8 digit. Ada sebagian orang yang miskin berlagak selayaknya orang tajir begitu keluar dari kampungnya. Tentu bukan ini yang dimaksudkan Paulus. Rasa saya, Paulus dan jemaat waktu itu mencium bau-bau kiamat yang tak lama lagi akan tiba sehingga Paulus memberi nasihat supaya umat tak usah berpolah aneh-aneh. Seperti apa itu polah yang gak aneh-aneh?

Mungkin baik dipertimbangkan teks Lukas hari ini: empat sabda bahagia dan empat sabda celaka. Yang barangkali penting dicatat ialah tempus atau tense yang dipakai untuk sabda pertama: berbahagialah kamu yang miskin karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Ini adalah present tense. Sabda selanjutnya menggunakan subjungtif, conditional tense atau future tense: yang sekarang lapar akan dipuaskan, yang menangis akan tertawa, dan seterusnya. 

Artinya, yang penting adalah bahwa orang miskin (yang diserukan sebagai orang berbahagia itu) itu adalah yang empunya Kerajaan Allah. Tak perlulah ia berpolah laku seolah-olah sekarang ini belum punya Kerajaan Allah dan baru kelak di kemudian hari dia akan tertawa, akan dipuaskan, akan besar upahnya nanti di surga dan sebagainya. Ini justru adalah undangan kepada hidup yang autentik: bahwa sikap orang miskinlah yang memungkinkan kepemilikan Kerajaan Allah.

Kalau begitu, bahkan meskipun Yesus seakan memuji orang miskin, itu tentu adalah orang miskin yang memang punya sikap miskin. Sebaliknya, meskipun Yesus seakan mencela orang kaya, itu tentu adalah orang kaya yang tak punya sikap miskin. Dengan demikian, persoalan yang sedang ditunjuk Yesus bukanlah persoalan temporer kekayaan yang perlu dideclare dalam program pengampunan pajak. Ia menunjuk sesuatu yang lebih eksistensial: hendaklah siapa saja secara autentik memupuk sikap ketergantungan kepada Allah sendiri.

Maka, kalaupun mesti memakai kata ‘seolah-olah’, hidup orang beriman kiranya mencerminkan suatu hidup konkret yang terbebaskan dari attachment yang membutakannya dari orientasi yang diwahyukan oleh Si Pemandu Hidup. De facto ia memiliki ini itu, tetapi kepemilikan itu semata digunakannya seturut proyek keselamatan Allah sendiri, bukan untuk aneka pemuliaan dirinya sendiri.

Tuhan, semoga kami dapat bekerja sekeras mungkin seakan-akan semuanya bergantung pada intervensi-Mu dan pasrah sebongkok-bongkoknya seolah-olah semuanya bergantung pada jerih payah kami. Amin.


RABU BIASA XXIII
7 September 2016

1Kor 7,25-31
Luk 6,20-26

Posting Rabu Biasa XXIII B/1 Tahun 2015: Besar Upahmu di Surga
Posting Rabu Biasa XXIII Tahun 2014: Married Oke, Jomblo Bahagia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s