Married Oke, Jomblo Bahagia

Ada adegan film berlatar Perang Dunia II yang saya sudah lupa judulnya, tetapi punya adegan yang terkesan dipaksakan. Di tengah desingan peluru, mortir, dan bom yang kian mendekat, seorang lelaki malah mencari kesempatan untuk mencumbui perempuan bahkan meskipun ia tahu peluru sudah mengarah ke dalam kamar mereka berada. Tapi, itulah film pada umumnya: pokoknya ada adegan seksnya biar marketable.

Nasihat Paulus lebih masuk akal. Dalam bahaya penganiayaan, setiap orang diminta untuk fokus pada Sang Cinta. Yang jomblo ya tetaplah jomblo, bukan karena married itu dosa, melainkan karena konsekuensi kondisi darurat itu lebih memberatkan! Karena itu…yang beristeri harus berlaku seolah-olah mereka tak beristeri; orang-orang yang menangis seolah-olah tak menangis; orang-orang yang bergembira seolah-olah tak bergembira; dan orang-orang yang membeli seolah-olah tak memiliki apa yang mereka beli;  pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tak mempergunakannya (1Kor 7,29-31).


Kok rasanya susah ya kata-kata Paulus itu? Padahal, lebih masuk akal daripada adegan film PD II itu. Di mana akalnya? Dalam terang Sabda Bahagia: saat orang memakai hal-hal duniawi ini seturut tujuannya diciptakan, dan bukan meng-abuse-nya. Kapan terjadi abuse? Ketika orang memperlakukannya seolah-olah semuanya itu adalah upayanya sendiri, propertinya sendiri, jasanya sendiri, hasil keringatnya sendiri, haknya sendiri, dst. Sikap dasar seperti itu memuat bahaya ketidaktulusan alias cinta bersyarat atau cinta nan korup.

Bayangkanlah seseorang bekerja keras mencari uang untuk membiayai sekolah anak orang lain dan kemudian terbukti bahwa anak asuh itu malah memakai uang pemberiannya untuk berfoya-foya! Andaikanlah ada orang tua yang merinci seluruh pengeluaran uangnya sekian tahun untuk memarahi anaknya! Atau pernahkah Anda dengan uang tabungan membelikan anak Anda sebuah mainan mahal dan dalam hitungan jam ia merusakkannya? Bagaimana reaksi Anda?

Reaksi-reaksi spontan bisa menjadi jejak untuk Sabda Bahagia. “Sialan, anak tak tahu diri. Susah-susah cari duitnya, malah dihabiskan untuk games online!” Reaksi ini masuk dalam “sabda celaka”. “Wah, sayang sekali, tapi kenapa anak ini sampai menyalahgunakan uang beasiswa ya?” Reaksi ini tak berfokus pada keluhan dan diri sendiri, tetapi justru menunjukkan perhatian pada persoalan anak asuh: uang masih bisa dicari, sesulit apapun, yang penting anak asuh itu bisa berkembang lebih baik lagi. Reaksi ini bisa jadi masuk dalam Sabda Bahagia. Ia punya uang, tetapi seolah-olah tak mempunyainya. Freely you have received; freely give!

Itu jelas beda dengan pejabat yang ‘membeli’ jabatannya! Jabatan dipakai untuk mengembalikan atau melipatgandakan bayarannya.


RABU BIASA XXIII
10 September 2014

1Kor 7,25-31
Luk 6,20-26

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s