Allah Korup

Berdasarkan Tap MPR No. I/MPR/2003, butir Pancasila yang semula 36 (seturut Tap MPR No. II/MPR/1978) dikembangkan jadi 45. Dulu saya hafal, tetapi semakin tua itu, katanya, yang berkembang tingkat komprehensinya lebih dari daya hafalnya. Sayangnya, sekarang ini saya malah tidak semakin mengerti mengapa dengan dasar negara ini masih dilanggengkan hukuman mati. Ketuhanan dan kemanusiaan macam apa yang diusungnya ya? Saya benar-benar gak dhonk. Digembar-gemborkan Allah itu Pengasih dan Penyayang, Maharahim, Maha Pengampun, tetapi siapa yang mau percaya kalau orang-orang yang menggembar-gemborkan itu juga menggembar-gemborkan hukuman mati?

Lah, Mo, yang Maha Pengampun itu kan Tuhan. Manusia bukan Tuhan, jadi gada kewajiban dia jadi maha pengampun! Eaaaa betul sih, tapi logikanya rada-rada gimanaaa gitu, Sus. Gak ada premis umumnya kok main ambil kesimpulan ajatur kesimpulannya berbau-bau normatif padahal premisnya deskriptif [halah malah kuliah logika selayang pandang]!

Tak harus bergumul dengan kaidah-kaidah logika untuk mengerti bagaimana ironi kehidupan itu bikin orang galau dan ujung-ujungnya kemunafikan. Lihat saja kenyataan bagaimana paradigma hidup orang dibangun oleh kondisi-kondisi (maka disebut conditioning) lingkungan sekitarnya. Orang yang biasa hidup di alam keras, bisa jadi menganggap kekerasan itu sesuatu yang lumrah. Orang yang akrab dengan pelajaran balas dendam, tentu bisa membuat balas dendam sebagai kewajaran. Problem muncul ketika conditioning-conditioning itu diidentikkan dengan keadilan, agama, cinta, dan Tuhan: atas nama hal-hal itu orang bisa menyiksa, memperkosa, membunuh, menghakimi, menghukum mati. “Terpaksa saya bunuh kamu karena kamu membunuh orang lain. Tak ada yang boleh mencabut nyawa orang selain Tuhan sendiri, tau‘?!”

Saya gak ngerti kenapa orang memelihara ironi dan kontradiksi macam itu, bukankah ia malah mempermalukan agama, keyakinan atau Tuhannya sendiri ya? Entahlah, bisa jadi karena ia mendapat conditioning yang keliru sehingga untuk memahami agama dan teks sucinya jadi keliru. 

Seorang ibu sangat concern dengan pengajaran moral anaknya dan jengkel karena hobi anaknya yang suka mencuri kue dagangannya. Ia terus mengancam anaknya dengan hantu bernama Tuhan. “Awas ya, Tuhan tahu apa yang kamu buat.” Sang anak mengangguk-angguk, tetapi lain hari ia mengambil kue lagi, lagi dan lagi (kenapa sih contohnya bukan es grim?). Akhirnya si ibu memberi wejangan bijak,”Nak, tahukah kamu, bahkan meskipun ibu tak tahu, Tuhan ada di sini melihatmu ketika kamu mencuri kue?” Si anak menjawab dengan mantap,”Iya, tentu, Ma.” “Nah, kamu pikir apa yang Dia bilang waktu melihatmu mencuri kue?” Si anak berkata,”Dia bilang: Ssst, di sini cuma ada kita. Kita ambil kuenya dua ya, kamu ambil satu, nanti Aku ambil satu.”

Si ibu sebetulnya cukup demokratis, sekurang-kurangnya menanyakan pikiran anaknya, tetapi sepertinya ia hendak menanamkan keyakinan korupnya bahwa Tuhan yang maha melihat itu juga adalah hakim penghukum supaya ia tak mencuri lagi. Dari mana Allah macam itu? Begitukah kata Kitab Suci?

Bacaan pertama menampilkan gambaran Allah yang menyesali rancangan hukuman-Nya. Dalam teks bacaan kedua, Paulus mengalami kerahiman Allah itu karena kesadaran dirinya sebagai pendosa. Bacaan ketiga menarasikan hati yang penuh belas kasih sang ayah. Itulah hati Allah yang berbelas kasih, hati yang sulit diadopsi manusia yang tak sadar diri sebagai pendosa.

Tuhan, semoga ampun-Mu nyata dalam diri kami. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXIV C/2
11 September 2016

Kel 32,7-11.13-14
1Tim 1,12-17
Luk 15,1-32 (1-10, 11-32)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s