Iman yang Seksi

Gusti nyuwun kawelasan. Setelah sekian tahun membaca kisah Injil, hari ini baru ngeh bahwa perwira Romawi itu sudah terlebih dulu mengutus orang tua-tua Yahudi untuk menemui Yesus. Weleh-weleh, jadi selama ini kurang teliti dalam persiapan kontemplasi dong ya. Ya itu makanya Gusti nyuwun kawelasan

Perwira Romawi ini simpatik sekali, juga di mata orang-orang Yahudi, yang pada umumnya menyimpan kebencian kepada (antek-antek) orang Romawi nan ‘kafir’ itu. Ia rupanya jadi teman dan bahkan benefactor atau donatur bagi orang Yahudi. Perlakuannya terhadap hamba pun mengundang simpati. Bukankah dia bisa saja memecat budaknya itu dan mengganti dengan budak lain yang lebih sehat? Alih-alih membuang budaknya yang sakit, perwira ini sangat concern dan mengutus teman sesepuh Yahudi kepada Yesus. Strategi yang jitu. Yesus tergerak untuk pergi ke tempat perwira Romawi itu.

Akan tetapi, perwira Romawi ini tampaknya sadar betul akan kebiasaan dan paradigma orang Yahudi. Kedatangan Yesus ke rumah orang ‘kafir’ menajiskannya. Maka sebaiknya dia jumpai saja Yesus sebelum sampai ke rumahnya. Itu sudah sesuatu. Tetapi kalau Yesus gak ke rumahnya, gimana bisa nyembuhin budaknya? Nah, itu lebih sesuatu lagi. Berarti dia punya kepercayaan bahwa penyembuhan itu bisa dilakukan meskipun tak ada kontak fisik. Apa yang memungkinkan itu? Dia menafsirkannya dari hidup dia sendiri: aku punya bawahan dan satu mandatku saja bisa memengaruhi gerakan di lapangan. Dia terbuka pada kekuatan kata. Itu mencengangkan Yesus. Gak dia temukan orang dengan kepercayaan seperti itu.

Itu rupanya jadi kondisi yang dibutuhkan orang untuk masuk dalam misteri, kondisi yang rupanya tidak eksklusif milik orang beragama Yahudi. Perwira Romawi nan punya kuasa itu menunjukkan kesederhanaannya, menepis keangkuhan posisinya sebagai perwira, dan malah menaruh respek pada Yesus.

Begitulah, di kedalaman hati manusia, simpati memihak orang-orang kuat yang melayani orang lemah. Orang akan lebih tersentuh oleh tentara atau polisi kekar yang membantu korban daripada yang memukuli orang yang jelas-jelas tak berdaya, misalnya. Orang akan lebih tersentuh oleh penguasa yang tulus membantu orang-orang tersingkir daripada yang justru menyingkirkan kaum lemah. Ini pasti bukan soal pribadi nan melambai, melainkan soal realisasi Allah yang Mahakuasa dalam dunia konkret yang serba lemah.

Tuhan, semoga kami tak mengandalkan kekuasaan dan superioritas kami semata untuk mengejar kepentingan diri. Amin.


HARI SENIN BIASA XXIV
12 September 2016

1Kor 11,17-26
Luk 7,1-10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s