Allah Absurd?

Barangkali satu-satunya keberatan serius terhadap eksistensi Allah yang mahabaik itu adalah fakta penderitaan atau kejahatan yang menimpa orang-orang tak bersalah, orang-orang baik, orang-orang yang tekun mendengarkan dan melaksanakan kehendak Allah. Kok bisa-bisanya orang baik malah terkena musibah, celaka, jadi korban kejahatan? Ini absurd, karena katanya Allah mahabaik. Lain soalnya kalau Allah itu sosok yang moody dan tak kenal ampun, tak ada masalah dengan keyakinan akan adanya Allah yang mahabaik itu. Semua kejahatan, termasuk yang menimpa orang baik, itu bisa dijelaskan: lha wong Allah itu arbitrer nan otoriter, suka-suka Dia donk

Bagi orang yang berpegang pada kebaikan Allah, seperti diwartakan Yesus, kejahatan atau penderitaan terhadap orang tak bersalah itu sulit diterangkan. Kitab Suci pun tidak menerangkannya, meskipun sebagian pembacanya mengklaim bahwa Kitab Suci menjawab segala persoalan hidup. “Segalanya ada dalam Kitab Suci” itu adalah slogan lebay yang kurang menghargai kekayaan hidup dan barangkali sudah punya kaca mata kuda mengenai satu penafsiran: apa-apa saja ditafsirkan menurut prejudice dalam kepalanya mengenai Kitab Suci yang (harus) menjawab segala-galanya. Oranglah yang mesti menjawab persoalan hidup, Kitab Suci boleh jadi pedoman, tetapi bukan jawaban.

Nah, kalau Kitab Suci pun tak menjelaskan persoalan penderitaan orang tak bersalah itu, njuk apa relevansinya ya? Saya tak bisa menjawab untuk semua Kitab Suci. Kalau dari perspektif saya sebagai orang Katolik, Kitab Suci itu memang cuma petunjuk pada gambaran Allah yang dipersonifikasi dalam sosok Yesus (Kristus). Gak lebih dari itu, tetapi itu pun sudah bikin runyam. Kitab Suci ‘cuma’ memberi sketsa Allah ber-compassion terhadap penderitaan manusia, sebagaimana terlihat dalam bacaan hari ini. 

Bisa jadi absurd bahwa seorang janda yang punya anak laki semata wayang kehilangan anak justru pada saat anak itu bisa diandalkan sebagai tulang punggung kehidupan mereka bersama. Yesus tergerak hatinya nan compassionate. Akan tetapi, kebangkitan anak itu malah bisa menimbulkan pertanyaan lainnya: kenapa gak selalu terjadi begitu? Apakah karena sudah terlalu banyak janda sehingga Allah tak sanggup menerapkan kebangkitan itu bagi semua? Hahaha… Allah yang gak mahakuasa donk jadinya!

Tak ada jawaban. Memang ada jawaban dalam kisah The Footprints in the Sands, tetapi itu begitu indah dan romantisnya sehingga orang malah gak ngerti apa artinya ‘dalam masa sulit digendong Allah sehingga cuma terlihat sepasang jejak kaki’. 

Tak ada jawaban selain indikasi kepada Allah nan compassionate yang tak akan bertele-tele dengan penjelasan, tetapi ‘menggendong mereka yang menderita’ dalam salib, dengan kemungkinan bertambahnya harapan, iman, dan cinta mereka sehingga ada perbedaan perspektif yang memberi makna dan dengan demikian membahagiakan hidup orang bahkan yang secara objektif menderita kejahatan serius. Bukan kegagalan Allah bahwa orang yang menderita akhirnya menyangkal eksistensi Allah, melainkan kegagalan manusia untuk mengambil perspektif yang mengokohkan iman, harapan, dan cintanya.

Ya Tuhan, semoga misteri ilahi-Mu senantiasa meneguhkan harapan, iman, dan cinta kami kepada-Mu dan sesama. Amin.


SELASA BIASA XXIV
Pesta Wajib Yohanes Krisostomus
13 September 2016

1Kor 12,12-14.27-31
Luk 7,11-17

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s