Sakit Dipelihara

Orang Kristen pada abad awal masehi sebetulnya tak punya simpati terhadap simbol salib. Bisa dimaklumi, wong salib itu memang simbol hukuman keji yang merendahkan, menghina martabat si terhukum. Mereka punya simbol lain bagi iman mereka (ikan, jangkar perahu, gembala, misalnya). Baru setelah Kaisar Konstantinus mendirikan basilika dengan salib emas di Kalvari dan makam suci (13 September 336?), orang-orang Kristen mulai mengambil salib sebagai simbol pilihan hidup mereka. Maka kemudian dirayakanlah pesta pemuliaan Salib Suci ini.

Apa toh maksudnya pemuliaan Salib Suci itu? Dalam teks hari ini disodorkan kata ‘peninggian’ yang sepertinya pengertiannya berbeda dari pengertian umum tentang suatu pemuliaan. Konteksnya adalah perbincangan pribadi Yesus dan Nikodemus di malam hari. Nikodemus adalah sosok Farisi yang tidak mainstream, yang hendak mencari terang kehidupan, yang rupanya tertarik pada hidup yang ditawarkan Yesus. Omongan Yesus sederhana, meskipun tak mudah dimengerti, apalagi dipercayai. Katanya, gak mungkin orang bisa mengkontemplasikan (dalam arti mengerti dengan pemahaman mutlak) Surga kalau ia tidak turun atau berasal dari sana. Pun, orang yang begini ini baru bisa mewartakan Surga itu dengan peristiwa salib, seperti dulu Musa meninggikan patung ular supaya orang yang mengkontemplasikannya (dalam arti memandangnya) selamat alias sembuh dari bisa ular yang mematikan.

Untuk sosok Yesus, mungkin tak ada persoalan, tetapi bagi para pengikutnya, itu jadi problem besar: bagaimana saya bisa secara sah mengatakan bahwa saya mengalami salib?

Bisa jadi orang secara lebay menganggap segala jenis sakit dan penderitaan adalah salib. Padahal, jelas toh: tak semua penderitaan dan sakit adalah salib. Kebanyakan adalah akibat kesalahan atau kebodohan diri sendiri. Maka, sebetulnya, daripada pusing memikirkan mana penderitaan atau sakit yang bisa dikategorikan sebagai salib dan mana yang akibat kebodohan sendiri, lebih baik memahami salib sebagai cara atau perspektif melihat atau menghadapi sakit itu. Jadi, bukan penderitaan atau sakitnya sendiri yang jadi pokok perhatian, melainkan dinamika atau proses orang memperlakukan penderitaan dan sakit itu.

Ada saja orang yang naif menerima sakit sebagai salib dan karena itu dengan senang hati, dengan aneka alasan suci yang mungkin biblis juga sifatnya, membiarkannya sampai sakit itu semakin parah, padahal sebetulnya ada hal yang bisa dilakukan. Sebaliknya ada juga yang sebegitu ekstrem memelihara kesehatan fisiknya (supaya pelayanannya bisa maksimal) sedemikian rupa sehingga hal-hal lain terabaikan, seolah-olah kesehatan fisik itu adalah segala-galanya. Di situ ada kelekatan tertentu, yang malah menambah derita dalam sakit.

Memang tak mudah memilih jalan tengah: in medio stat virtus. Menemukan kebijaksanaan senantiasa menuntut askese atau melawan keogahan demi kemuliaan Allah yang lebih besar, apalagi kalau orang dalam status sakit. Semua jadi serba tak enak, dan semakin berkubang untuk menghindari yang gak enak itu, makin susah juga jalan menuju kesembuhan.

Tuhan, semoga kami sanggup menatap salib AMDG dan mengambil pilihan yang sesuai dengannya. Amin.


PESTA SALIB SUCI
(Hari Rabu Biasa XXIV C/2)
14 September 2016

Bil 21,4-9
Flp 2,6-11
Yoh 3,13-17

Posting Tahun Lalu: Bonceng Yesus
Posting Tahun 2014: Kesucian Salib

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s