Pesta Duka

Refleksi kemarin menyisakan pertanyaan bagaimana konkretnya menyatukan sakit atau penderitaan dengan salib yang diderita Yesus, orang gila dari Nazaret itu. Hari ini tersisa satu jawaban dengan cermin apa yang dibuat oleh Maria yang kedukaannya dipestakan oleh Gereja Katolik dirayakan. Piye toh Mo, duka kok malah dipestakan! Ya mboh!

Dalam duka mendalam, dalam luka nan memedihkan, Maria bergeming, bukan karena bebal, bukan karena ngeyel, bukan karena keras kepala, bukan karena gak mau tau, bukan karena naif, melainkan justru dalam bergeming itu Maria aktif mensinkronkan hidupnya dengan kehendak Allah. Dalam diam ia selami misteri belas kasih Allah. Dalam sunyi ia cari kehendak Allah.

Meskipun bisa jadi penderitaan orang adalah akibat keteledorannya sendiri, dan dengan demikian tak layak disebut sebagai salib, ia masih punya peluang untuk memaknai kesusahan hidup lantaran keteledorannya itu dengan pertobatan. Pengalaman pertobatannya itulah yang bisa jadi pengalaman salib: transformasi dari cinta diri ke cinta sejati. Ini senantiasa sulit dan kerap kali membuat pedih karena seluruh proyek egoistik dileburkan dalam proyek keselamatan Allah. Ada biaya yang mau tak mau dikeluarkan untuk proyek macam ini, entah biaya material maupun biaya emosional.

Biaya material bisa dinegosiasi dengan belas kasih Allah melalui orang-orang di sekitar. Biaya emosional hanya bisa dibayar dengan pengakuan akan kebesaran Allah dan dalam kebesaran Allah itulah seluruh usaha manusiawi diletakkan. Yang kerap kali tak terbayarkan ialah bahwa usaha manusiawi nol, sehingga tak ada yang diletakkan dalam kebesaran Allah itu. Orang merasa diri pasrah kepada Allah tetapi sebetulnya tak ada yang dipasrahkan karena tak ada usaha keras yang dilibatkan. Begitulah kerohanian naif: tak usah berbuat apa-apa karena semua bergantung pada Allah, cukup berdoa sekuat tenaga. 

Ini menjelaskan apa yang sudah diterangkan dalam blog ini: berusaha sekuat tenaga seolah-olah semua hasil bergantung pada (kebaikan, kemurahan hati) Allah dan berdoa sekhusyuk mungkin seakan-akan segala hasil bergantung pada (kepasrahan) kita. Di situ, kedukaan bukan hal yang pantas ditangisi, melainkan kebajikan yang layak dirayakan, diwujudkan dalam cinta. Memang tak enak rasanya karena seolah banyak hal di luar kendali diri, tetapi sunyi dalam pencarian dan diam dalam penyelaman kehendak Allah, itu niscaya membahagiakan umat beriman, bagaimanapun kondisi dirinya.

Tuhan, semoga teladan Maria yang berdukacita meneguhkan kami dalam pencarian tiada henti kehendak-Mu yang menyelamatkan. Amin.


PESTA WAJIB SP MARIA BERDUKACITA
(Kamis Biasa XXIV)
15 September 2016

1Kor 12,31-13,13
Yoh 19,25-27

Posting Tahun Lalu: Turut Berdukacita
Posting Tahun 2014: Speechless

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s