Yesus Tukang Santet?

Hari ini saya belajar sesuatu dari tokoh pemikir yang konon adalah atheis (yang labelnya sendiri sangat saya ragukan: apa bener ada orang yang sungguh-sungguh atheis?). Tidak usah saya sebut namanya ya nanti ndhak pembaca malah ikut-ikutan memberi label atheis kepada mereka. Saya lebih suka melihat mereka sebagai pencari Tuhan yang sedemikian getol dengan olah pikir mereka sedemikian rupa sehingga malah terkesan mereka meniadakan eksistensi Tuhan. Karena mereka menolak untuk berafiliasi pada agama tertentu, mereka memandang agama semata sebagai fenomena sosial. Maka, pun dalam menjelaskan asal-usul agama, mereka mesti menemukan fenomena sosial lainnya sebagai cikal bakal agama itu.

Canggihnya, karena mereka itu ada dalam proyek besar pencerahan, mereka bercita-cita menemukan akar fundamental agama yang bersifat universal. Artinya, menurut mereka, ada kesamaan cikal bakal agama di manapun mereka muncul. Apa cikal bakalnya? Kepercayaan kepada roh-roh (animisme) dan magic atau semacam perdukunan begitu. Semua agama, begitu menurut observasi mereka, punya bentuk asalinya begitu: animisme, magic, politheisme, monotheisme, dan jika dilanjutkan mungkin berujung pada saintisme (dari tembung Inggris science). Semakin maju agama, semakin klop dengan saintisme. Maka, yang paling primitif adalah agama yang akrab dengan animisme dan magic itu.

Hebatnya, pengamat itu menempatkan diri mereka, tentu saja, di ujung yang dekat dengan saintisme tadi dan memandang praktik agama lain sebagai praktik primitif. Kesan saya, mereka juga cukup rasis justru karena asumsi mereka berkenaan dengan gagasan evolusi, seakan-akan ada agama yang lebih tinggi daripada agama lainnya. Celakanya, asumsi mereka itu diam-diam diabadikan juga dalam praktik politik bangsa kita: menentukan agama resmi yang dianggap sah (dan ‘animisme’, kalau label itu memang valid, tak dapat tempat).

Lha kok ujug-ujug saya cerita pelajaran hari ini ya. Soalnya teks bacaan hari ini mengisahkan bagaimana Yesus menyembuhkan orang dari jarak jauh, seolah-olah dengan ilmu santet yang canggih (yang tak butuh helai rambut atau membuat boneka) yang tak dikuasai para tabib saat itu. Tentu saja ia tidak memakai ilmu santet. Njuk gimana menjelaskannya? Haiya balik lagi ke pengumuman kemarin-kemarin bahwa teks Kitab Suci bukan reportase sejarah, seakan-akan Yesus ini mendirikan agama Kristen. Itu tetot besar. Ada pesan rohani yang hendak disampaikan di situ.

Pesan rohaninya tentu tak diperoleh dari fenomenologi agama. Lihat saja struktur teksnya sendiri. Ada beberapa karakter yang pantas diperhatikan: para tua-tua Yahudi dan perwira yang notabene diberi label kafir. Yang pertama berusaha meyakinkan Yesus untuk membantu perwira, yang mereka anggap memberi keuntungan kepada mereka. Karakter kedua meminta kesembuhan bukan untuk keuntungannya (dia bisa buang budaknya dan beli yang lain!). Ketika iman menjadi transparan dan bebas dari cinta diri, kuat dan konkret, sebagaimana ditunjukkan orang berlabel kafir itu, orang siap masuk ke dalam misteri kerahiman Allah, termasuk bahkan yang oleh orang atheis disebut santet, sihir, magic dan semacamnya.

Kalau orang tidak transparan dan bebas itu, fokus perhatiannya ada pada santet dan sihirnya, bukan misteri kerahiman Allah. Orang stress justru karena memikirkan kesembuhannya sendiri daripada happy dengan Allah yang punya kuasa untuk memberi kesembuhan.

Ya Tuhan, mohon kerendahan hati dan keterbukaan diri terhadap kerahiman-Mu. Amin.


HARI SENIN BIASA XXIV A/1
18 September 2017

1Tim 2,1-8
Luk 7,1-10

Senin Biasa XXIV C/2 2016: Iman Yang Seksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s