Agama Seksual

Coba silakan tebak gambar apakah berikut ini:

Iya betul, itu memang salah satu contoh surat (kontrak) perkawinan orang Yahudi. Tampak nyeni, dan memang ada banyak variasi gambar nan indah untuk surat perkawinan itu.
Sekarang bandingkanlah gambar itu dengan gambar berikut ini (saya comot dari video Youtube):
.
Selayang pandang, Anda tahu bahwa itu adalah surat cerai orang Yahudi. Bedanya cukup mencolok. Kalau yang pertama berwarna-warni, yang kedua cuma hitam putih, berkesan dingin, sesuai dengan isinya. Menariknya, surat cerai tidak menggunakan tulisan cetak seperti dalam surat perkawinan, tetapi tulisan tangan (meskipun bisa juga dicetak dengan font tertentu). Ini mengesankan bahwa bahasa dalam surat perkawinan dianggap sakral sedemikian rupa sehingga tak bisa dipakai untuk surat cerai.

Dengan kata lain, perkawinan lebih indah daripada perceraian. Tak perlu termakan hoax bahwa perceraian lebih baik daripada perkawinan karena itu cuma kamuflase kegagalan merealisasikan indahnya komitmen perkawinan atau perkawinan itu sendiri hanyalah keterpaksaan kultural (yang memuat ketidakadilan, bahkan kekerasan dalam power relation) yang memang tak pantas dipertahankan. Tapi tak perlu berpanjang lebar dengan hal ini karena pertanyaan dalam teks hari ini begitu lugas,”Apakah suami boleh menceraikan istrinya?”

Di era emansipasi perempuan, tentu subjek dalam kalimat tanya itu bisa diganti istri dan, dengan demikian, jelaslah arah pertanyaannya: bagaimana cerai bisa dibenarkan. Bahkan para murid Guru dari Nazareth itu diam-diam menyimpan pertanyaan itu karena mereka tahu bahwa dalam kasus tertentu perceraian dimandatkan seturut hukum agama: ketika istri tidak bisa memberikan keturunan. [Janjané yang memberi keturunan tuh siapa sih?] Akan tetapi, Guru dari Nazareth tampak menegaskan bahwa perceraian tidak klop dengan imajinasi suci.

Gak klopnya gimana? Tak bisa saya bahas di sini, sudah capek menulis buku jadul Cara Menguji Ketulusan Cinta dan Teologi Seksual soalnya, hahaha. Singkatnya, imajinasi suci itu lebih terkait pada seksualitas manusia yang untuk mencapai kepenuhannya orang mesti cinta perbedaan karena perbedaan itu komplementer sifatnya. Runyamnya, barangkali karena cara berpikir laki-laki, seksualitas diidentikkan dengan problem genital: seksualitas adalah soal kawin dan dikawinkan! Padahal, seksualitas itu lebih kompleks daripada yang genital, yang punya hukumnya sendiri.

Maksudnya gimana Mo? Saya kok rada-rada gak dhonk. Nantilah kapan-kapan kalau ada ceramah seksualitas ya, ihik3.
Pokoknya dari teks bacaan hari ini bisa dimengerti bahwa pada dasarnya perceraian yang dipersulit oleh agama menegaskan bahwa kedegilan hati orang membuatnya nggugu karêpé dhéwé dan hanya supaya tindakan semau-maunya itu tak menjadi-jadi, surat cerai diberikan.

Itu mengapa dalam teks bacaan hari ini disertakan juga narasi mengenai anak-anak yang dibawa kepada Guru dari Nazareth. Para murid memarahi orang yang membawa anak-anak untuk berjumpa dengan Guru, dan malah kemudian Gurunya yang memarahi murid-muridnya. Justru anak-anak itulah yang punya Kerajaan Allah. Kenapa? Karena mereka tunduk pada otoritas lain, tidak nggugu karêpé dhéwé. Ini tamparan untuk mereka yang mengklaim diri beragama dan bahkan beriman tetapi jebulnya cuma mendengarkan dan memercayai dirinya sendiri.

Jadi, kesan saya, ini bukan per sé soal perceraiannya, melainkan undangan supaya orang sungguh mendengarkan yang lain untuk berjumpa dengan Yang Lain, alias Gusti Allah.

Tuhan, mohon rahmat keterbukaan hati untuk mendengarkan Sabda-Mu. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXVII B/2
7 Oktober 2018

Kej 2,18-24
Ibr 2,9-11
Mrk 10,2-16

Posting 2015: Cinta Mbelgedhes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s