Agama Sableng

Teks bacaan hari ini sungguh kontras dengan apa yang senyatanya terjadi pada panggung politik belakangan ini. Silakan simak dulu klip setengah menit ini (dan dengan demikian mungkin Anda menyumbang sekian rupiah untuk pengunggah atau pembuat klipnya; saya gak dapat bagian, hiksss):

Teks hari ini mengisahkan bagaimana para murid yang kemarin diutus itu pulang dan begitu gembira karena bahkan setan-setan takluk. Juga kalau setan penggoda RS ikut mengganggu para murid itu, saya yakin, setan itu pun akan takluk. Guru dari Nazareth itu tak ingin para muridnya terseret ilusi dan tipu daya setan yang mesti hendak merasuki hati. Rupa-rupanya murid-muridnya dibekali modal untuk mengenyahkan kuasa setan dan mereka berhasil. Akan tetapi, yang menarik bukan bahwa mereka berhasil mengusir setan atau bahwa setan takluk pada mereka, melainkan bahwa Allah yang mahabesar itu memberikan rida justru kepada orang kecil dan sederhana, tetapi tersembunyi bagi orang bijak dan pandai.

Di sini perlu segera diterangkan bahwa orang kecil dan sederhana itu tidak identik dengan orang tolol dan miskin. Ini bukan soal kemiskinan atau kekayaan material. Ini juga bukan soal ketololan dan kepintaran dalam sains. Ini soal hati yang terarah kepada Allah setulus-tulusnya, Allah yang mengatasi segala-galanya, termasuk agama-agama di dunia ini. Hmmm…. Romo ini sinis banget sih terhadap agama?
Ya enggak jugalah. Saya sangat menghormatinya sebagai jalan bagi orang supaya ‘namanya terdaftar di surga’ dan justru karena hormat itu saya tidak ingin orang beragama terkecoh oleh ilusi dan tipu daya setan, juga kalau ia tidak terlibat dalam politik praktis.

Kemarin saya membaca buku mengenai islamisasi di Jawa yang berlangsung sejak abad ke-14. Salah satu poin menarik bagi saya ialah bahwa karena sebelum agama Islam masuk, Jawa sudah akrab dengan paham mistik yang dibawa Hinduisme dan Buddhisme. Tak mengherankan, orang-orang suci yang memeluk agama Islam berdakwah juga dengan mempertimbangkan karakter Jawa, dan mereka berupaya membuat sinkronisasi: menjadi Jawa berarti menjadi Islam dan menjadi Islam adalah menjadi Jawa. Ide itu menyadarkan saya bahwa agama tidak pernah bisa hidup sendiri seakan-akan bisa jadi murni dengan mengenyahkan unsur-unsur yang berbeda.

Tak mengherankan bahwa Guru dari Nazareth menegaskan supaya muridnya tak terkecoh: yang penting bukan bahwa setan takluk kepada mereka, melainkan bahwa jalan yang ditunjukkannya sungguh mengantar mereka pada Allah. Maka, dalam berjalan itu, mereka mesti bermawas diri apakah jalan itu mengantar mereka pada Tuhan atau jangan-jangan terbelokkan ke pembakuan agama. Kalau jadinya yang kedua, orang beragama terkecoh: merasa yakin bahwa agamanyalah yang paling benar bagi semua orang, begitu keukeuh bahwa cara berdoanyalah yang paling diridai Allah, dan tak pernah belajar dari sejarah, tak pernah belajar dari mereka yang berbeda.

Setiap orang beragama memang mesti meyakini bahwa agamanya adalah agama yang paling benar bagi hidupnya, tetapi itu tidak berarti bahwa agama lain salah dan orang lain harus seperti dia. Kalau begitu, agamanya jadi agama sableng.

Tuhan, mohon kerendahhatian supaya cara beragama kami sungguh menghargai kemanusiaan. Amin.


SABTU BIASA XXVI B/2
6 Oktober 2018

Ayb 42,1-3.5-6.12-17
Luk 10,17-24

Sabtu Biasa XXVI A/1 2017: Seeing God 
Sabtu Biasa XXVI C/2 2016: Wanted: Sparring Partner
Sabtu Biasa XXVI B/1 2015: Ayo Daftar Ulang

Sabtu Biasa XXVI A/2 2014: Papa(ku) Miskin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s