Wanted: Sparring Partner

Saya mengagumi orang yang berusaha menyelaraskan hidupnya dengan kehendak Tuhan, tetapi sejujurnya saya takut-takut gimanaaa gitu pada orang yang secara berapi-api membawa-bawa Tuhan dalam pembenaran dirinya. Kenapa takut gimana gitu? Karena itu sudah masuk ranah klaim kebenaran dan karena Tuhan dibawa pada ranah itu dengan berapi-api, orang yang menyatakannya sudah menempatkan dirinya sebagai Tuhan. Tak ada suara lain yang didengarkannya.

Itu mengapa saya sangat suka ungkapan insha’Allah: orang sadar bahwa kemampuan dirinya sendiri tidak memadai bagi Kebenaran karena Kebenaran itu transenden, mengatasi dirinya sendiri, menggapai yang lain. Kebenaran yang begini ini tentu tidak eksklusif, tetapi justru dibangun dalam iklim inklusif, dalam dialog antarsubjek. Problemnya, siapa yang bisa mengklaim dialog dengan Allah tanpa mengujinya dalam dialog dengan sesama?

Teks Injil hari ini ada dalam konteks perutusan puluhan murid Yesus, yang secara praktis sebetulnya adalah perutusan bagi semua orang untuk mewartakan kabar gembira Tuhan. Mereka diutus berdua-dua, yang artinya ialah bahwa apapun tindakan hebat yang mereka lakukan, itu senantiasa merupakan tugas perutusan dari komunitas dan dalam komunitas. Ini bukan ajang untuk membangun monumen diri supaya dikenang sejarah, sebagai penemu hukum gravitasi, presiden terlama, gubernur paling tegas, jenderal termuda, dan sebagainya. Memang secara natural prestasi-prestasi itu, kalau boleh dibilang sebagai prestasi, akan tercatat dalam sejarah, tetapi yang mencatat tentu orang lain.

Yesus menyambut kepulangan para murid itu dengan catatan,”Jangan bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga.” Yesus mengajak para muridnya supaya tak tertipu oleh penampakan, kedangkalan hidup yang dibangun oleh ideologi kesuksesan. Kebahagiaan sejati, kalau membutuhkan alasan, tidak berasal dari aneka keberhasilan ini itu, tetapi dari kenyataan hidup orang yang terarah pada Kebenaran. Itulah kiranya ‘terdaftar di surga’: bukan bahwa terserah apapun yang dilakukan di dunia ini pokoknya nama orang tercatat di surga. Takluknya roh kepada para murid adalah indikator bahwa para murid itu berjalan dalam persekutuan dengan Allah. Jadi, yang pantas disyukuri pertama-tama adalah persekutuan dengan Allahnya itu, bukan bahwa roh-roh takluk.

Tentu pertanyaannya kembali lagi: siapa yang bisa mengklaim suatu persekutuan dengan Allah jika tak mengujinya dengan dialog horisontal [dengan sesama]? Bagaimana mungkin orang bisa berkoar-koar mencintai Allah tetapi tak mendengarkan jeritan kaum lemah dan tersingkir, bahkan malah menghakimi mereka sebagai preman ilegal, warga tak peduli kepentingan umum (seolah-olah mereka bukan bagian dari ‘umum’)? Bagaimana mungkin orang sampai pada relasi berdimensi vertikal kalau yang diributkan hanya persoalan legal-ilegal (yang adalah relasi horisontal)? Tanpa pertobatan, orang tak bergerak menuju Kebenaran yang transenden itu. Hidupnya cuma muter-muter pada lingkaran kekuasaan, kesuksesan merekayasa teknik, menata infrastruktur dengan melecehkan martabat kemanusiaan (yang justru adalah pintu masuk pada Kebenaran transenden itu). Kalau gak ada sparring partner, gimana orang bisa menggapai yang transenden?

Tuhan, semoga kami menghargai yang lain sebagai bantuan untuk menghidupi kebenaran-Mu. Amin.


SABTU BIASA XXVI A
Pesta Wajib S. Teresia dari Kanak-kanak Yesus
1 Oktober 2016

Ayb 42,1-3.5-6.12-17
Luk 10,17-24

Posting Sabtu Biasa XXVI B/1 Tahun 2015: Ayo Daftar Ulang
Posting Sabtu Biasa XXVI Tahun 2014: Papa(ku) Miskin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s