Bukit Berduri

Istilah ‘kamus berjalan’ kita pernah dengar atau baca, sekurang-kurangnya baru saja. Orang macam ini ditanyai apa saja yang ada di kamus akan bisa menjawab dan jawabannya memang sesuai dengan apa yang ada di kamus. Isi kamus itu dibawanya ke mana ia pergi. Tentu saja, ‘perpustakaan berjalan’ tidak bisa diartikan sebagai orang yang ke mana-mana membawa isi perpustakaan. Berat, bo‘! Ya, dan jauh lebih berat lagi isi Kitab Suci! Maka, ‘Kitab Suci berjalan’, Living Gospel, Living Scriptures, pastilah ‘barang’ yang amaaaaat langka.

Gereja Katolik (juga Gereja Ortodoks Timur, Lutheran, dan Anglikan) hari ini memperingati S. Hieronimus, yang menerjemahkan Kitab Suci dari bahasa Ibrani ke bahasa Latin. Kalau ia pantas dijuluki sebagai ‘Kitab Suci berjalan’, tentu bukan karena ia telah menerjemahkan seluruh Kitab Suci ke dalam bahasa Latin, melainkan karena hidupnya diresapi oleh isi Kitab Suci itu. Bagaimana hidup yang diresapi oleh isi Kitab Suci itu?

Hampir seluruh bangunan di Bukit Duri sudah rata dengan tanah. Penertiban [bahasa siapakah?] berlangsung kondusif. Tentu saja, karena gerakan perlawanan warga Bukit Duri tidak mengambil rupa kekerasan juga. Syukurlah, dan kekalahan mereka adalah suatu keniscayaan. Akan tetapi, hidup ini bukan perkara menang-kalah. Kalau begitu, jelaslah mereka yang lemah tersingkir. Itulah hukum struggle for the fittest.

Saya tidak antipemerintah, tidak antipembangunan, tidak antipenertiban. Sejujurnya, saya malah menaruh kekaguman pada petahana dan mendukungnya. Indikasinya ada di posting ini (Surat Tertutup untuk Ahoy). Akan tetapi, itu tidak lantas membuat saya buta pada persoalan yang pantas dikritisi dan kritik saya biasanya bersumber pada soal cinta-cintaan. Indikasinya ada di posting ini (Cinta Kok Maksa). Saya tidak akan menyodorkan kritik baru dari tinjauan spiritualitas karena memuat bahaya nanti dipakai untuk black campaign terhadap petahana. Lha wong mendukung kok malah bikin black campaign, kan gak lucu.

Meskipun demikian, Bukit Duri dulunya mungkin berduri dan sungguh bisa jadi duri dalam daging orang yang sungguh beriman. Hari ini Yesus mengecam warga Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum. Kenapa? Karena mereka tak mendengarkan Sabda Allah, tak jadi living scriptures. Mereka membangun sistem perekonomian yang baik, pembangunannya juga oke, panenan jos, rakyatnya makmur dan pakmur. Akan tetapi, rupanya bukan itu tolok ukur yang dipakai Yesus untuk menilai warga kota sebagai orang-orang yang pantas diberkati.

Barangkali, kalau pengadilan terakhir itu punya pintu, pada pintu itu setiap orang ditanyai bukan soal kesuksesan pembangunan yang dijalankannya, melainkan bagaimana kesuksesan pembangunan itu dijalankan. Jika sidang pengadilan terakhir itu punya jaksa penuntut, barangkali jaksa penuntut itu tak akan mempersoalkan bagaimana orang mampu memenuhi deadline penertiban demi kepentingan umum, tetapi bagaimana deadline itu dipenuhi. Kalau tujuan menghalalkan cara, apa bedanya dengan teroris? Mau mengkritik teroris dengan teror? 

Ya, itu kan menurut Romo! Pancen! Julukan ‘living scriptures‘ kepada Hieronemus karena ia menghidupi isi Kitab Suci itu juga menurut saya. Menurut yang lainnya sih julukan itu muncul karena memang dialah yang menerjemahkan Kitab Suci, jadi dia hafal semua isi Kitab Suci itu! 

Haiya sumonggo. Saya sih tak pernah percaya bahwa hanya karena hafal Pancasila njuk orang juga mengamalkannya! Amin.


JUMAT BIASA XXVI
Pesta Wajib S. Hieronimus
30 September 2016

Ay 38,1.12-21; 39,36-38
Luk 10,13-16

Posting Jumat Biasa XXVI Tahun 2014: Protes Tuhan? Silakan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s