Agama Bodoh

Ketulusan itu terlalu mahal di negeri ini dan karena terlalu mahalnya, ketulusan KW (kalau menurut kaidah bahasa Indonesia mestinya KU sih, tapi mau bagaimana lagi, ikuti kaidah KW saja deh) lebih laris, dan karena yang lebih laris ketulusan KW, bertebaranlah aneka versi analisis, baik yang manis maupun yang amis (lah bedanya apa), tetapi pembaca tak tahu lagi mana fakta dan kata, karena bombardir kata lama-lama bisa jadi fakta bagi orang yang tak memelihara epoché, (eaaaaa keluar lagi kata dari posting kemarin itu) dan tampaknya kita memang belum terbiasa dengan epoché, bisa jadi sasaran empuk untuk orang-orang yang tak punya ketulusan alias ketulusannya KW.

Teks bacaan hari ini merupakan lanjutan narasi kemarin yang berisi penugasan Guru dari Nazareth kepada tujuh puluhan muridnya dengan modal damai di hati, tetapi bagian yang sekarang ini dibacakan bernada kutukan keras terhadap kebebalan wilayah tempat Guru dari Nazareth itu tinggal.

Beberapa kilometer sebelah kiri dan kanan kota Kapernaum itu ada Betsaida dan Khorazim. Meskipun Guru dari Nazareth itu cinta mati pada Kapernaum, ia tak segan-segan mengutuknya karena tak ada ketulusan dalam diri warganya untuk menerima warta gembira keselamatan. Kalau saja yang diwartakan Guru dari Nazareth itu agama baru, bolehlah mereka jadi antipati. Akan tetapi, Guru itu cuma mengundang mereka untuk melihat fakta dan menyesuaikan hidup mereka dengan fakta itu: bertobat karena cara beragama mereka yang ilusif. Reaksi mereka? Tak mau tobat. Ya wis, dikutuk saja, dan kutukan itu sepertinya berlangsung sampai sekarang: ketiga kota itu hilang dari peradaban.

Apa relevansinya buat orang beragama zaman now?
Paradoks yang sama masih berlanjut kok: banyak orang beragama (yang diinisiasi sejak bayi) punya keyakinan kuat bahwa tak ada orang yang bisa mempertobatkannya. Kenapa? Entah, mungkin karena mengira hidup ini cuma soal membela agama, mungkin karena pertobatan diidentikkan dengan kebenaran agama sehingga bertobat berarti orang lain mesti berpindah agama, mungkin karena korban ketulusan KW itu. Celakanya, alih-alih jadi agency untuk pembaruan diri, agama jadi tameng untuk politik kotor. Kok bisa ya? Kata orang di sana, karena kebanyakan orang beragama itu gampang dibodohi.

Semoga semakin banyak orang beragama yang mau bertobat, besar hati untuk melakukan autokritik, dan tidak memperbodoh diri dengan aneka tipu daya ‘setan’ (yang entah itu siapa).
Tuhan, mohon rahmat supaya kami sungguh dapat bertobat dan menemukan kehendak-Mu.
Amin.


JUMAT BIASA XXVI B/2
5 Oktober 2018

Ay 38,1.12-21; 39,36-38
Luk 10,13-16

Jumat Biasa XXVI A/1 2017: Part-Time Lover
Jumat Biasa XXVI C/2 2016: Bukit Berduri
Jumat Biasa XXVI A/2 2014: Protes Tuhan? Silakan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s