Awas Penyusup

Anda pernah dengar ungkapan bahwa orang yang kurang percaya diri cenderung susah memercayai orang lain, tetapi mohon tidak membaliknya: orang yang susah memercayai orang lain adalah orang yang kurang percaya diri. Itu bergantung apakah orang atau halnya sendiri memang tepercaya.

Ada satu istilah yang kemarin muncul dalam kelompok belajar saya: epoché (bacanya èpoké, dari kata Yunani ἐποχή). Artinya? Konon dalam bahasa Inggris suspension atau put in bracket gitulah. Kalau mau lebih jelas lagi: the state where all judgments about non-evident matters are suspended in order to induce a state of ataraxia (freedom from worry and anxiety). This concept was developed by the Pyrrhonism school of philosophy. [Sekali lagi, saya sedang belajar bahasa Inggris, jadi itu copy paste dari situs berbahasa Inggris.]

Hal yang ditunjuk istilah ini sangat berguna untuk zaman now dengan mentalitas post-truthnya. Tanpa epoché, terjadilah seperti dagelan yang kemarin terjadi di bumi ini: dari kroco sampai petinggi menyodorkan framingnya sendiri tanpa melakukan verifikasi secuil pun. Apa framingnya? Entahlah, tapi saya kembali ingat ungkapan Latin: nemo dat quod non habet (tak ada orang yang memberikan apa yang dia tidak punya). Itu berarti, kalau yang dipunyainya kebohongan dan perang, ya kebohongan dan perang itulah yang jadi kerangka berpikirnya.

Tak mengherankan, setelah kebohongan terbongkar, muncul gagasan untuk bersih-bersih penyusup. Niatan bersih-bersih ini mengasumsikan bahwa pihak luar menyusupkan orang. Oke, kita pakai epoché tadi. Artinya, bisa saja lawan menyusupkan orang mereka, tetapi itu tidak bisa diterima sebagai fakta sebelum terbukti. Kalau menganggap asumsi adalah faktanya, orang dihantui worry dan anxiety. Kalau orang memelihara worry dan anxiety, ia menganggap problem itu ada di luar sana, pihak sana, orang lain.

Padahal, penyusup sesungguhnya sudah bercokol dalam diri setiap orang, entah mau menyebutnya setan atau roh jahat atau nafsu berkuasa, sumonggo. Tanpa epoché, orang disetir oleh rasa perasaan dan asumsinya sendiri yang memproduksi kenajisan. Maka, ide bersih-bersih memang penting: membersihkan tim dari kebohongan-kebohongan politik, bukannya malah bikin aneka politisasi. [Kepala negara mengunjungi korban bencana kok diminta tidak menggunakan fasilitas negara, lha memangnya dia mengunjungi korban sebagai tetangga kampung pa piyé?]

Tokoh yang diperingati Gereja Katolik hari ini, yang namanya dipakai sebagai nama Paus sekarang ini, kiranya menghidupi pesan teks bacaan hari ini. Ia tidak membiarkan worry dan anxiety bercokol ketika meninggalkan status kebangsawanannya, hidup miskin dan menjadi pewarta Kabar Gembira bagi siapa saja yang dijumpainya. Apa modal yang dibawanya?  وَأَيُّ بَيْتٍ دَخَلْتُمُوهُ فَقُولُوا أَوَّلاً: سَلاَمٌ لِهذَا الْبَيْتِ. Ini tulisan Arab yang saya kopikan dari teks Lukas 10 ayat 5. Saya tidak bisa membacanya, tetapi dari bentuk tulisannya itu memang ada yang mirip dengan السَّلاَمُ (assalamualaikum, CMIIW) yang biasa diucapkan saudara-saudari muslim di sini. Artinya memuat nuansa ‘damai’ dan ‘keselamatan’.

Begitulah kalau mau sungguh bersih-bersih dari penyusup: membawa damai dan keselamatan bagi dunia. Sayangnya, tak ada pembawa damai dan keselamatan yang fokus perhatiannya pada politik kekuasaan bermodalkan (white) lie.

Tuhan, jadikanlah kami pembawa damai. Amin.


HARI KAMIS BIASA XXVI B/2
Peringatan Wajib S. Fransiskus Assisi
4 Oktober 2018

Ayb 19,21-27
Luk 10,1-12

Kamis Biasa XXVI A/1 2017: Hidup Cuma Sekali Kok
Kamis Biasa XXVI B/1 2015: Kesaktian Iman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s