Hidup Cuma Sekali Kok

Teks bacaan hari ini mengingatkan saya pada kawan-kawan aktivis mahasiswa di penghujung millenium kemarin, yang salah satunya beberapa hari lalu terpilih sebagai anggota Komnas HAM. Tadinya saya hendak menyampaikan pesan seperti dalam teks hari ini,”Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.” Akan tetapi, mungkin pesan seperti itu agak lebay, meskipun kenyataannya benar begitu. Asudahlah… pokoknya yang penting kita doakan supaya anggota komisi yang baru ini bisa bekerja lebih mak jleb lagi, alih-alih jadi bagian permasalahan bangsa ini.

Saya mau buka kartu, tetapi tak perlu Anda koar-koarkan ya, wong ya sudah tahu sama tahu kok. Ini refleksi saya sendiri ketika dulu pernah jadi pastor di sebuah gereja Katolik di daerah yang istimewa. Jadi pastor di gereja itu… enak gila’, mbok mau jempalitan kayak gimana (kecuali bikin perkara hukum berat), gereja gak akan hancur, wong hidupnya gereja itu gak bergantung pada pastornya. Pastornya mau basketan setiap hari, mancing saben Senen, atau main tenis setiap malam, tak masalah. Paling-paling cuma akan jadi omongan di belakang: pastornya tidak memperhatikan umatnya, sering pergi sama orang-orang kaya, tak pernah mengunjungi umat miskin, susah dimintai misa keluarga miskin dan gampang memberkati rumah mentereng.

Kalau keterlaluan, si pastor bisa saja dipindah dari satu gereja ke gereja lainnya, dan mengulang hal yang kurang lebih sama, bergantung pada situasi setempat. Problem pada pastornya sendiri terbengkalai. Apa toh problemnya, Mo? Ya mboh, bergantung pastornya. Saya cuma bisa menengarai aji mumpung ataupun kere munggah bale. Kalau orang sudah jadi pastor, karena ini dipilih dari ‘atas’, setelah terpilih ya bisa sakkarepe dhewe: mau dolan kek, mau memupuk hobi wisata rohani kek, mau hunting misa ke mana-mana kek, suka-suka. Sudah jadi pastor, kok! Umat tak bisa membatalkan kepastoran itu, bahkan Paus pun gak bisa mencabut kepastoran seseorang kalau yang bersangkutan tidak membuat skandal berat.

Di situlah tempat nyaman untuk pastor yang bertugas di gereja itu: asal tidak sampai membuat skandal berat, tak usah susah payah ya gak apa dong. Hidup kan cuma sekali, ngrokok enggak, kawin enggak, minum bir susah, ya gak usah repot-repotlah kerjanya. Gereja toh bisa jalan sendiri, umat tetap datang ke gereja, bagaimanapun pastornya. Jadi ya nikmati saja, kerja manasuka sajalah!

Belakangan ini mungkin prinsip seperti itu agak susah diterapkan karena rupanya ada mekanisme baru dengan supervisi supaya kinerja pastor di gereja itu transparan dan akuntabel. Tapi ya kembali lagi, kalau ternyata tak transparan dan tak akuntabel, so what? Status pastor kan takkan dicabut! Masih tetap pastor; tak bergantung pada penilaian umat.

Apakah mentalitas kerja manasuka itu cuma dihidupi pastor? Tentu tidak! Pegawai negeri punya peluang besar, pegawai swasta sama saja. Ini adalah contoh orang-orang yang teralineasi, terasingkan dari dirinya sendiri, dari pekerjaannya, dari sesama juga: baru mau kerja sungguhan kalau mendatangkan keuntungan pribadi demi survival.

Ya Allah, bermurah hatilah sehingga setiap orang menerima pekerjaan mulianya sebagai amanat kemanusiaan dan sungguh amanah. Amin. [Aku selalu murah hati, kalian saja yang bermental kere munggah bale]


HARI KAMIS BIASA XXVI A/1
5 Oktober 2017

Neh 8,1-4a.5-6.7b-12
Luk 10,1-12

Kamis Biasa XXVI B/1 2015: Kesaktian Iman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s