Kesaktian Iman

Kata misi dalam kaitannya dengan hidup religius di negeri ini tampaknya cenderung dimaknai sebagai kegiatan penyebaran agama. Maklum, sebagian besar warganya kurang memperhatikan adanya perbedaan substansial antara agama dan iman. Akibatnya, orang berpikir bahwa beda agama berarti beda iman. Ya memang sih, tiap orang punya level perkembangan iman yang berbeda, tetapi itu tidak pertama-tama berkenaan dengan isi imannya sendiri, melainkan (cara) penghayatan isi iman itu.

Loh, tak berkenaan dengan isi iman gimana? Orang Katolik jelas-jelas berdoa dengan tanda salib yang berbunyi ‘Demi nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus’ yang mereka sebut Allah Tritunggal. Sebutannya saja sudah beda!
Ya sebutan beda kan gak otomatis berarti yang disebut itu berbeda. Yang satu nyebut meja, yang lain nyebut ‘mensa’ atau ‘table’; barang yang disebut sama. Tak perlu berprasangka buruk terhadap mereka, apalagi berlagak tahu apa yang dimaksud Allah Tritunggal itu. Orang Katoliknya sendiri juga mungkin plonga-plongo kalau diminta menjelaskan apa itu Allah Tritunggal. Paling banter, mereka akan membuat analogi mengenai tritunggal yang pasti punya lubang kesalahan. Tiap agama punya semacam language game yang mungkin tak bisa diterjemahkan dalam agama lain, tetapi sebetulnya merujuk pada pokok yang sama.

Misi yang dimaksud Gereja Katolik tidak merujuk pertama-tama pada penyebaran language game, alias agama, tadi. Dulu memang dimengerti begitu (justru karena orang mencampuradukkan iman dan agama begitu saja). Sekarang ini, rasa saya, adalah sangat memalukan jika orang Katolik merasa dirinya harus membuat orang Islam, Buddha, Hindu, dll menjadi pemeluk agama Katolik. [Ingin membuat orang beragama-lain supaya memeluk agama Katolik saja rasanya sudah memalukan.] Lu kira agama Katolik itu yang paling baik buat semua orang gitu po?!

Teks Injil yang saya ambil hari ini klop juga dengan peringatan St. Teresia (dari Kanak-kanak Yesus), si pelindung misi. Dikisahkan bagaimana Yesus mengutus 70 muridnya setelah kemarin ditegaskan bahwa pewartaan Kerajaan Allah (yaitu yang ditunjuk oleh language game agama itu tadi) adalah prioritas. Orang tak bisa menomorduakan misi itu di bawah kerangka like-dislike, sopan santun, solidaritas semu ikatan keluarga, dan sebagainya. Pewartaan Kerajaan Allah mengatasi sekat agama maupun nasionalisme. Jumlah 70 murid tentu menunjuk pada lingkup yang lebih besar daripada 12 rasul. Artinya, tugas itu tidak eksklusif milik rasul. Semua pengikut Kristus diminta untuk mewartakan Kerajaan Allah tadi.

Mohon diingat bahwa Yesus menegaskan: mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu (Luk 10,2 ITB). Artinya, pewarta itu mesti sadar betul bahwa misinya tidak berasal dari minat atau bakatnya sendiri. Ia perlu sadar bahwa Tuan si empunya tuaian itu ialah Allah sendiri. Ia perlu berdoa mohon tambahan pekerja, yang artinya mohon supaya semakin banyak orang beriman. Ini bukan doa narsis (yang tak relevan) untuk minta ini itu demi keinginannya sendiri. Ini adalah doa yang dilandasi oleh keyakinan bahwa Allah mahabesar dan maharahim. Semakin orang masuk dalam keyakinan nan penuh kepasrahan kepada Allah macam ini, semakin mendalam imannya, semakin ia bisa berjumpa dengan banyak orang yang berbeda agama tanpa arogansi.

Iman sejati, seperti cinta, punya kesaktian untuk mengatasi perbedaan tidak dengan cara penyeragaman, sloganisme (Bhinneka Tunggal Ika, misalnya), formalisme, fundamentalisme, apalagi terorisme.


HARI KAMIS BIASA XXVI B/1
Pesta St. Teresia dari Kanak-kanak Yesus
1 Oktober 2015

Neh 8,1-4a.5-6.7b-12
Luk 10,1-12

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s