Duit Selangit, Pelayanan Elit

Mengapa sebelum mulai pertandingan sepak bola antar klub profesional, para pemain keluar dari ruang ganti bersama anak-anak menuju lapangan? Kenapa gak dengan umbrella girls yang cantik nan seksi aja? Atau topeng monyet sekalian?
Itu sepertinya berkenaan dengan kebijakan bisnis klub sepak bola berkenaan dengan membership mereka (yang bayar sekian boleh gini gitu); tapi ini tidak menjawab pertanyaan ‘mengapa anak-anak’ dan bukannya gadis-gadis yang kiranya ngefans berat terhadap bintang-bintang sepakbola. Pertanyaan serupa juga bisa dilontarkan pada Yesus yang ketika murid-muridnya menanyakan siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga malah memanggil seorang anak kecil sebagai ‘maskot’ untuk kerendahan hati.

Konteks Yesus memanggil anak kecil itu ada dalam wacana Matius mengenai hidup komunitas yang mencerminkan Kerajaan Allah. Anak kecil diambil Yesus sebagai representasi dari mereka yang tak diperhitungkan dalam masyarakat. Mereka yang paling rentan selayaknya jadi perhatian komunitas sehingga memang nyatalah keyakinan bahwa Allah menjadi Bapa bagi semua orang (bdk. Mat 18,14). Pertanyaan muridnya mengenai siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga mengindikasikan bahwa muridnya tak menangkap ‘roh’ pewartaan Yesus sendiri. Wagu dan ironislah bahwa orang berlomba-lomba melayani, mengampuni, atau berbuat baik demi kepentingan dirinya (sendiri). Bagaimana mengukur pelayanan yang baik? Pasti melibatkan survei kepuasan pelanggan, yang sering berkorelasi dengan duit: semakin banyak duitnya, semakin elit service-nya.

Kriteria fundamental pelayanan Kerajaan Allah tak mengandalkan uang: yang penting nilai-nilai Kerajaan Allah itu berputar dalam roda pelayanan yang menjangkau bagian terlemah dalam hidup bersama. Namanya bagian terlemah, pasti sangat bergantung pada pihak lain yang lebih kuat. Pihak lain bisa saja mengabaikannya, menghilangkannya, meniadakannya, menghancurkannya. Di situ berlaku hukum rimba, dalil hidup sebagai suatu kompetisi, struggle for the fittest; dan hukum Allah bukanlah hukum rimba. Hukum rimba bisa jadi skandal, merenggut ketulusan iman, seperti mengikis ketulusan anak yang punya ‘roh’ keterbukaan dan menaruh kepercayaan kepada orang-orang yang membesarkannya.

Entah rekayasa atau bukan, foto Aylan Kurdi yang menyentak dunia itu menggambarkan betapa mengertikannya skandal hukum rimba. Yesus mewanti-wanti supaya pengikutnya tak menganggap rendah kaum lemah seperti ini: mereka pun punya malaikat penjaganya. Lah, punya malaikat penjaga kok mati? Ke mana malaikat pelindungnya? Jelaslah jobdes malaikat bukan untuk menghindarkan orang dari kematian (semata). Dalam Kitab Suci, ada teks yang omong soal malaikat, lalu tiba-tiba soal Tuhan, seolah-olah keduanya dicampuradukkan (bdk. Kej 18 & 13 misalnya). Malaikat menjadi wajah Allah yang terpaparkan pada manusia, pada Anda, pada saya, pada kita.

Maka, peringatan malaikat pelindung dalam tradisi Gereja Katolik juga bisa ditangkap sebagai ungkapan keyakinan iman mendalam bahwa Allah senantiasa menyertai manusia. Dia tidak absen, tetapi juga tidak merampas kebebasan manusia untuk senantiasa mencari wujud konkret cinta Allah. Salah satu indikatornya: tidak diskriminatif.

Bunda Maria, bantulah aku supaya tetap terpaut pada hati Allah yang tak pernah diskriminatif. Amin.


PERINGATAN WAJIB PARA MALAIKAT PELINDUNG
(Jumat Biasa XXVI B/1)
2 Oktober 2015

Kel 23,20-23a
Mat 18,1-5.10

Posting Tahun Lalu: Where is Your Guardian Angel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s