Ciyus?

Kebanyakan persoalan orang tak terselesaikan bukan karena persoalannya memang tak bisa diselesaikan, melainkan karena orang tidak sungguh-sungguh hendak menyelesaikannya. Tak usahlah omong soal political will di skala besar, urusan-urusan sepele sajalah, masalah berlarut-larut karena orang yang punya kewenangan tak sungguh-sungguh menganggap halnya penting dan tak sungguh-sungguh ingin menyelesaikannya. Demikian juga dalam disiplin hidup rohani, orang tak bisa mengalami perjumpaan dengan Tuhan bukan karena perjumpaan itu tak bisa dialami, melainkan karena orangnya sendiri tidak sungguh-sungguh ingin mengalami perjumpaan dengan Tuhan itu.

Anthony de Mello melukiskannya dengan cerita seorang musafir yang datang kepada seorang guru untuk belajar supaya bisa mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan si guru cuma mengajak orang itu ke kali. Barangkali Tuhan ini bersembunyi di salah satu lubang di pinggir kali. Setibanya di kali, sang guru mengajak orang itu berjalan ke tempat yang agak dalam airnya dan setelah tiba di situ, sang guru memegang kepala si pengembara dan menenggelamkannya ke dalam air. Orang itu semula diam saja tak melawan cengkeraman si guru, tetapi setelah beberapa puluh detik ia mulai meronta-ronta dan akhirnya melepaskan kepalanya dari pegangan guru di dalam air.

Ia naik pitam [pitam itu apa sih kok bisa dinaiki?].
“Jauh-jauh aku ke sini untuk belajar darimu supaya bisa bertemu dengan Tuhan, tapi engkau malah menjerumuskan aku ke air sungai ini!”
“Mengapa Anda meronta-ronta di dalam air tadi?”
“Jelas toh?! Saya tak bisa bernafas di air!”
“Hanya kalau Anda menginginkan perjumpaan dengan Tuhan seperti Anda menginginkan udara untuk bernafas, Anda masuk ke jalan untuk berjumpa dengan Tuhan.”

Begitu saja ya. Itulah yang muncul di benak sewaktu saya membaca teks bacaan hari ini dan mesti mawas diri: kerap kali hal baik yang muncul dari mulut tidak sungguh-sungguh keluar dari hati.

Ya Tuhan, berilah kami kesungguhan hati untuk mendengarkan Sabda-Mu dan merealisasikannya dalam hidup kami. Amin.


HARI RABU BIASA XXVI A/1
Peringatan Wajib S. Fransiskus Assisi
4 Oktober 2017

Neh 2,1-8
Luk 9,57-62

Rabu Biasa XXVI C/2 2016: Hello Bystander!
Rabu Biasa XXVI B/1 2015: Tak Semudah Omongannya
Rabu Biasa XXVI A/2 2014: Tak Sayang, Tak Kenal

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s