Ujungnya Apa

Ini dari tetangga sebelah: Look not upon whether the way is narrow or difficult, but on where it leads. Jelas, kalau cuma lihat landai-curamnya, gampang-susahnya, mulus-terjalnya, orang akan cenderung memilih yang gampang, mulus, dan landai. Akan tetapi, waton memilih jalan yang curam, susah, dan terjal juga bukan jaminan orang sampai ke tujuan. Memang, pada akhirnya orang perlu melihat cakrawala yang lebih luas, yang memungkinkannya sampai ke tujuan. Kalau memang jalan ke sana itu semua gampang, mulus, dan landai, ya mengapa tidak ambil jalan itu, bukan?

Di satu sisi, pada kenyataannya, tak selamanya jalan ke tujuan yang dirindukan orang itu gampang, mulus, dan landai itu. Di lain sisi, bahkan gampang-susah itu relatif juga: bisa jadi orang memilih yang terjal karena ia hendak mengasah ketrampilan tertentu. Dengan kata lain, kembali lagi, akhirnya yang lebih penting diperhatikan ialah where they lead lebih daripada sensasi yang diperoleh dari pilihan-pilihan jalan itu. 

Sekurang-kurangnya itu yang saya petik dari teks bacaan hari ini mengenai seorang dari Nazaret yang hendak ke Yerusalem lewat wilayah yang orang-orangnya menolak dia semata karena tahu dia mau ke Yerusalem. Biasalah, sentimen. Apakah orang dari Nazaret itu mengurungkan niatnya ke Yerusalem? Ya tidak [loh, ya kok tidak]! Nota bene: orang Nazaret itu ditolak bukan hanya oleh orang-orang Samaria, melainkan juga oleh murid yang diutusnya sendiri. Loh, piye sihwong para murid itu menjalankan tugasnya untuk mempersiapkan keperluan gurunya kok malah dibilang menolak?

Penolakannya berbeda: dengan kebebalan hati mereka sehingga gak ngerti apa yang diperjuangkan guru mereka. Kok bisa menilai begitu, Mo? Lha coba saja lihat tawaran mereka setelah tahu orang Samaria menolak guru mereka: “Kita hancurkan mereka dengan api dari langit aja, gimana?” Sudah berapa lama mereka hidup bersama guru mereka dan belum ngeh juga bahwa gurunya hendak ke Yerusalem untuk menghadapi kekerasan, bukan untuk melawannya dengan kekerasan! Lha ini muridnya malah mengusulkan kekerasan. Hadeeeh….

Itu jadi mengingatkan saya pada penggambaran orang tentang orang dari Nazaret ini: ia tidak sedang melawan orang kafir atau melawan penjajah kolonial. Ia mengajarkan siapa saja untuk memeluk hati damai. Konon begitulah yang dikatakan Karol Wojtyla: damai tak bisa meraja di antara para bangsa jika tidak terlebih dahulu merajai hati orang-orangnya (ketoke ya wis cetha)Pedoman ini pentung eh penting manakala orang susah melihat where it leads atau ujungnya apa.

Dalam doa bagi siapa saja yang menjadi kurban hati-tanpa-kedamaian, dari Asia sampai Amerika. Semoga Tuhan menemukan cara lain untuk merealisasikan belas kasih-Nya. Amin.


SELASA BIASA XXVI A/1
3 Oktober 2017

Za 8,20-23
Luk 9,51-56

Selasa Biasa XXVI C/2 2016: Much Pain No Gain
Selasa Biasa XXVI A/2 2014: Pilih Rute Yang Mana Ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s